MALUKU UTARA — Angka kematian ibu dan bayi di wilayah 3T masih jadi pekerjaan rumah besar bagi Indonesia. Program Bidan Untuk Negeri (BUN) Dompet Dhuafa baru saja meraih Mandaya Award 2026 kategori Penggerak Inspiratif Pemberdayaan Masyarakat, berkat upayanya memperluas akses kesehatan ibu dan anak di daerah terpencil.
Penghargaan diserahkan Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar, kepada Wakil Ketua Dewan Pengurus Dompet Dhuafa, Herdiansah, di Ballroom Plaza BP Jamsostek, Jakarta Selatan, Selasa (27/10/2026). Program BUN sendiri dijalankan melalui Layanan Kesehatan Cuma-cuma (LKC) Dompet Dhuafa.
Bagi ibu di kota besar, akses ke bidan mungkin tinggal soal jarak beberapa kilometer. Di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), situasinya jauh berbeda. Program BUN hadir menjembatani kesenjangan itu.
Apa Itu Program Bidan Untuk Negeri
BUN adalah program pendampingan kesehatan ibu dan anak yang mengandalkan peran bidan sebagai ujung tombak di daerah terpencil. Pendampingan mencakup masa kehamilan, persalinan, hingga tumbuh kembang anak.
General Manager Kesehatan Dompet Dhuafa, dr. Yeni Purnamasari, menyebut bidan bukan sekadar penolong persalinan. Bidan jadi mitra perempuan menjaga kesehatan sepanjang siklus kehidupannya, terutama di periode seribu hari pertama kehidupan.
Alasan Kematian Ibu dan Bayi Jadi Prioritas
Herdiansah menyebut angka kematian ibu dan balita sebagai salah satu indikator kesejahteraan suatu negara. Karena itu, peningkatan kesehatan ibu dan anak butuh perhatian khusus.
Ia juga mengutip data UNICEF yang menempatkan Indonesia sebagai negara dengan kasus stunting tertinggi keempat di dunia. Angka itu jadi pengingat bahwa pendampingan sejak masa kehamilan tidak bisa ditawar.
"Salah satu indikator kesejahteraan masyarakat di suatu negara adalah angka kematian ibu dan balita. Oleh karena itu, upaya meningkatkan kesehatan ibu dan anak perlu mendapatkan perhatian yang khusus," ujar Herdiansah.
Tantangan di Wilayah 3T
Keterbatasan akses layanan kesehatan di wilayah pelosok masih jadi hambatan utama. Jarak tempuh jauh, tenaga kesehatan terbatas, dan minimnya fasilitas membuat ibu hamil rentan terlambat mendapat pertolongan.
Lewat BUN, Dompet Dhuafa berupaya menutup celah itu dengan menempatkan bidan yang mendampingi langsung warga di pelosok. Pendekatan yang dipakai bukan sekadar pelayanan medis, tapi juga pemberdayaan masyarakat.
Bukan Hanya Soal Layanan Kesehatan
Yeni berharap program BUN tidak berhenti pada peningkatan akses layanan. Yang sama penting adalah membangun kesadaran dan perubahan perilaku hidup sehat di tengah masyarakat.
Pendekatan pemberdayaan ini sejalan dengan tema Mandaya Award 2026, "Celebrating Impact and Inspiring Replication". Tema tersebut menekankan pentingnya program yang berdampak nyata agar bisa ditiru pihak lain.
Mandaya Award 2026 sendiri diikuti 349 partisipan dari berbagai kelompok pelaku pemberdayaan. Sementara Innovilleague 2026 menghimpun 415 tim yang melibatkan 1.245 mahasiswa.
Kolaborasi Jadi Kunci
Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat, Abdul Haris, menyebut Mandaya Award sebagai bentuk apresiasi bagi pihak yang berkontribusi dalam pemberdayaan masyarakat dan pengentasan kemiskinan.
Muhaimin Iskandar menekankan pentingnya kolaborasi berbagai pihak agar masyarakat beralih dari penerima bantuan menjadi kelompok mandiri. Penurunan angka kemiskinan, menurutnya, tidak lepas dari kontribusi pihak-pihak yang terlibat langsung di lapangan.
Harapan untuk Ibu dan Anak di Daerah Terpencil
Penghargaan ini didedikasikan Dompet Dhuafa kepada seluruh tim LKC dan para bidan yang bertugas dengan penuh pengabdian. Herdiansah juga menyampaikan apresiasi kepada donatur, penerima manfaat, dan mitra kerja yang mendukung program tersebut.
Bagi ibu-ibu di wilayah 3T, keberadaan bidan pendamping bisa jadi pembeda antara kehamilan yang terpantau dan persalinan yang berisiko. Program seperti BUN menunjukkan bahwa layanan kesehatan ibu dan anak layak menjangkau hingga pelosok negeri.