Tim Putra Waka dari Desa Fatkauyon menyabet gelar juara pertama dalam tradisi Gabalil Hai Sua di Kepulauan Sula setelah berjalan kaki sejauh 150 kilometer. Sepuluh pemuda ini berhasil mencapai garis finish di Benteng De Verwachting usai menaklukkan medan ekstrem selama lima hari perjalanan. Kemenangan dramatis ini sekaligus memeriahkan Hari Jadi ke-23 Kota Sanana.
SANANA — Sepuluh pemuda yang tergabung dalam Tim Putra Waka asal Desa Fatkauyon, Kecamatan Sulabesi Timur, berhasil mengamankan posisi puncak pada ajang Gabalil Hai Sua (Keliling Tanah Sula) 2026. Kelompok ini menyentuh garis finish di Benteng De Verwachting, Kota Sanana, Rabu (6/5/2026) pagi sekitar pukul 09:30 WIT.
Perjuangan tim ini tidak dilalui dengan mudah. Selama lima hari berturut-turut sejak dilepas pada 2 Mei 2026, para peserta harus berjalan kaki melintasi rute sepanjang 150 kilometer. Meski didera cuaca ekstrem dan medan yang menguras fisik, seluruh anggota tim yang terdiri dari Alwan Weu dan rekan-rekannya tiba dalam kondisi lengkap.
Keberhasilan Tim Putra Waka merupakan hasil dari konsistensi dan strategi fisik yang matang. Berdasarkan catatan di tiap pos pemeriksaan, tim yang dikoordinatori oleh Rustam Sanaba ini sempat tercecer di urutan ke-8 saat mencapai Pos 1 di Desa Nahi. Posisi mereka bahkan sempat merosot hingga urutan ke-11 ketika memasuki Pos 2 di Desa Fuata.
Momentum kebangkitan mulai terlihat saat tim memasuki wilayah asal mereka di Pos 3 Desa Fatkauyon. Sejak titik tersebut, mereka mengambil alih pimpinan lomba dan terus mempertahankan kecepatan hingga memasuki wilayah Kota Sanana. Rustam Sanaba mengaku bangga dengan daya juang timnya yang tidak kendur meski sempat tertinggal jauh di awal rute.
“Saya selaku koordinator sangat senang dan bangga karena perjuangan dan semangat peserta membuahkan hasil positif. Keberhasilan ini juga berkat dukungan penuh masyarakat Desa Fatkauyon,” ujar Rustam di lokasi finish.
Event Gabalil Hai Sua tahun ini diikuti oleh sedikitnya 310 peserta yang terbagi dalam 30 kelompok. Jalur yang ditempuh mencakup 41 desa yang tersebar di enam kecamatan di Kepulauan Sula. Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sula menyelenggarakan kegiatan ini sebagai agenda utama memperingati Hari Jadi ke-23 Kota Sanana.
Rustam menjelaskan bahwa tantangan terbesar selama lima hari perjalanan adalah fluktuasi cuaca dan kondisi jalan yang tidak menentu. Namun, semangat tim mulai berlipat ganda saat mereka melewati pos keempat menuju garis finish. Sepuluh nama yang mencatatkan sejarah bagi Desa Fatkauyon tersebut adalah Alwan Weu, Safrin Sanaba, Andar Weu, Adu Weu, Alfaro Weu, Karbin Leko, Harly Gay, Arjun Wambes, Risno Koroy, dan Rahmat Sanaba.
Gabalil Hai Sua atau ritual Keliling Tanah Sula bukan sekadar ajang adu ketahanan fisik. Tradisi turun-temurun ini merupakan warisan leluhur masyarakat Sula yang sarat akan nilai spiritualitas. Perjalanan panjang mengelilingi pulau ini dianggap sebagai bentuk penghormatan kepada tanah kelahiran dan para pendahulu.
Secara filosofis, ritual ini menjadi simbol kesiapan mental dan fisik bagi masyarakat dalam menghadapi tantangan hidup. Dengan melintasi puluhan desa, para peserta diharapkan dapat mempererat silaturahmi sekaligus memahami karakteristik geografis wilayah mereka. Tahun ini, kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Wakil Bupati Kepulauan Sula, M. Saleh Marasabessy, sebagai upaya melestarikan budaya lokal di tengah arus modernisasi.