Rupiah Terus Melemah ke Rp 17.487 per Dolar AS, Sentuh Level Terendah Baru di 2026

Penulis: Saiful  •  Selasa, 12 Mei 2026 | 10:09:31 WIB
Rupiah melemah ke Rp 17.487 per dolar AS, menyentuh level terendah baru di tahun 2026.

MALUKU UTARA — Dolar AS menunjukkan kekuatan di hadapan hampir seluruh mata uang utama Asia pada pagi ini. Data Bloomberg mencatat, indeks dolar AS menguat terhadap dolar Australia (0,22%), yen Jepang (0,24%), baht Thailand (0,29%), dan ringgit Malaysia (0,21%). Satu-satunya mata uang yang berhasil bertahan adalah yuan China yang menguat tipis 0,02% terhadap greenback.

Tiga Faktor yang Menekan Rupiah Pagi Ini

Tekanan terhadap rupiah datang dari kombinasi faktor eksternal dan domestik. Di pasar global, ekspektasi suku bunga tinggi The Fed masih menjadi sentimen dominan setelah data tenaga kerja AS terbaru menunjukkan pasar tenaga kerja yang masih ketat. Hal ini mendorong imbal hasil obligasi AS naik dan menarik aliran modal keluar dari negara berkembang.

Dari dalam negeri, pelaku pasar masih mencermati data cadangan devisa Indonesia yang akan dirilis pekan ini. Kekhawatiran terhadap berkurangnya bantalan intervensi Bank Indonesia (BI) membuat investor cenderung wait and see. Belum ada intervensi signifikan dari BI yang terdeteksi di pasar non-deliverable forward (NDF) pagi ini.

Level Psikologis Rp 17.500 dalam Sorotan

Level Rp 17.500 per dolar AS kini menjadi garis pertahanan psikologis berikutnya bagi rupiah. Sepanjang tahun 2026, rupiah sudah terdepresiasi lebih dari 6% terhadap dolar AS, menjadikannya salah satu mata uang dengan performa terburuk di Asia. Level Rp 17.500 adalah titik yang belum pernah ditembus sejak krisis moneter 1998, saat rupiah sempat menyentuh Rp 16.800 per dolar AS.

Analis menilai, jika rupiah menembus level tersebut, BI kemungkinan akan melakukan intervensi ganda—baik di pasar spot maupun melalui operasi moneter—untuk menahan laju pelemahan. Namun, efektivitas intervensi sangat tergantung pada kekuatan fundamental ekonomi dan aliran modal asing ke pasar Surat Berharga Negara (SBN).

Dampak ke Sektor Riil dan Pasar Modal

Pelemahan rupiah memberikan dampak berlapis. Bagi importir dan perusahaan yang memiliki utang dalam dolar AS, beban biaya semakin berat. Sektor manufaktur yang bergantung pada bahan baku impor—seperti industri kimia, elektronik, dan makanan-minuman—berpotensi mengalami tekanan margin. Di sisi lain, emiten tambang dan komoditas ekspor justru diuntungkan karena penerimaan dalam dolar AS menjadi lebih besar saat dikonversi ke rupiah.

Di pasar saham, IHSG diperkirakan akan tertekan pada sesi perdagangan hari ini. Sektor perbankan dan properti yang sensitif terhadap suku bunga dan nilai tukar menjadi yang paling rentan terhadap aksi jual asing. Investor disarankan mencermati pergerakan rupiah di kisaran Rp 17.450-Rp 17.500 sebagai indikator arah kebijakan BI selanjutnya.

  • Level saat ini: Rp 17.487 per dolar AS (09.06 WIB)
  • Pelemahan harian: 73 poin (0,42%)
  • Mata uang terkuat vs dolar AS pagi ini: yuan China (+0,02%)
  • Mata uang terlemah vs dolar AS pagi ini: baht Thailand (-0,29%)
Reporter: Saiful
Sumber: finance.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top