MALUKU UTARA — Data Bloomberg menunjukkan bahwa rupiah dibuka di level 17.515 per dolar AS, namun dengan cepat melemah hingga mencapai 17.541 pada pukul 09.52 WIB. Dalam konteks yang lebih luas, mayoritas mata uang Asia juga mengalami pelemahan terhadap dolar AS, dengan rupee India turun 0,34%, won Korea Selatan 0,29%, dan yen Jepang 0,04%.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengungkapkan bahwa peningkatan tekanan terhadap rupiah dipicu oleh ketegangan yang terjadi di Timur Tengah, yang mendorong harga minyak naik. Selain itu, ada kebutuhan dolar yang meningkat untuk pembayaran utang luar negeri, dividen, dan biaya ibadah haji.
Destry menegaskan bahwa BI akan tetap berkomitmen melakukan intervensi cerdas di pasar, baik melalui pasar spot maupun berbagai instrumen operasi moneter lainnya. "Kami berharap langkah ini dapat mengurangi tekanan pada nilai tukar rupiah," ujarnya dalam keterangan resmi.
Meskipun terjadi pelemahan, Destry mencatat bahwa aliran modal asing ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan Surat Berharga Syariah Negara (SRBI) menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Pada bulan April, aliran modal asing mencapai Rp 61,6 triliun, mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap aset portofolio Indonesia.
Ketersediaan likuiditas valas di pasar domestik juga terpantau tinggi. Pertumbuhan dana pihak ketiga dalam valuta asing pada akhir Maret mencapai 10,9% secara tahunan. "Kami memperkirakan bahwa tekanan yang bersifat musiman ini akan mereda, memungkinkan nilai tukar rupiah kembali ke level fundamentalnya," tambah Destry.