JAKARTA — Pantauan pada platform Google Finance pukul 09.03 WIB menunjukkan kurs 1 dollar AS tercatat setara dengan Rp 17.603,20. Pergerakan ini mengonfirmasi tren pelemahan yang terus berlanjut sejak pembukaan pasar, di mana rupiah sempat bergerak di kisaran Rp 17.540 hingga Rp 17.550 per dollar AS.
Data Morningstar yang tampil di Google Finance memperlihatkan tekanan besar terhadap mata uang Garuda. Kondisi serupa juga terpantau di platform Bloomberg, yang menunjukkan rupiah masih berada dalam zona merah terhadap dollar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 17.529.
Kenaikan harga minyak mentah dunia menjadi faktor utama yang membebani mata uang regional, termasuk rupiah. Investor saat ini cenderung menghindari aset berisiko atau risk off akibat ketidakpastian situasi di Timur Tengah yang belum mereda.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak mentah global memberikan dampak signifikan. Tekanan ini tidak hanya dialami Indonesia, tetapi juga merembet ke berbagai mata uang di kawasan Asia.
“Rupiah dan mata uang regional terpantau melemah cukup besar terhadap dollar AS oleh harga minyak mentah dunia yang kembali naik,” kata Lukman Leong dikutip dari Kompas.com, Selasa (12/5/2026).
Kondisi fiskal Indonesia dan arus modal asing yang belum pulih sepenuhnya menambah kekhawatiran pelaku pasar. Reuters melaporkan bahwa rupiah sempat menyentuh rekor terlemah baru di level Rp 17.535 per dollar AS sebelum akhirnya menembus angka Rp 17.600 pagi ini.
Analis melihat ada potensi pelemahan lebih lanjut jika variabel ekonomi global tidak segera membaik. Harga minyak jenis Brent yang bertahan di level tinggi menjadi indikator kunci yang terus dipantau oleh para pelaku pasar keuangan.
“Jika Brent bertahan di atas 110 dollar AS per barrel dan arus modal asing belum pulih, rupiah bisa menguji Rp 17.800,” ujar Josua Pardede dikutip dari Kompas.com, Selasa (5/5/2026).
Hingga menjelang siang, fluktuasi nilai tukar masih terjadi dengan volatilitas yang cukup tinggi. Pelaku pasar kini menunggu langkah antisipasi dari otoritas moneter untuk meredam tekanan yang semakin dalam terhadap nilai tukar rupiah.