MALUKU UTARA — Fenomena laptop 8GB RAM yang sempat dianggap punah kembali mencuat. Tom's Hardware melaporkan tren ini terlihat jelas di ajang Computex, di mana beberapa produsen besar memperkenalkan laptop dengan RAM 8GB sebagai opsi dasar. Penyebab utamanya adalah krisis harga komponen, terutama sistem memori yang kini jauh lebih mahal.
Produsen laptop terpaksa memangkas spesifikasi RAM untuk menjaga harga jual tetap kompetitif di segmen menengah. Sebelumnya, 16GB RAM perlahan menjadi standar minimal untuk laptop baru.
Beberapa laptop anyar yang mengusung RAM 8GB antara lain:
Semua laptop di atas, kecuali Chuwi UniBook, ditenagai oleh prosesor Intel Wildcat Lake terbaru. Namun, tren ini tidak terbatas pada chip Intel. Qualcomm juga dikabarkan akan menggunakan prosesor Snapdragon C (berbasis Arm) untuk laptop murah seperti Acer Aspire Go 15 yang kemungkinan besar juga dibekali RAM 8GB.
Fenomena ini tidak lepas dari kesuksesan MacBook Neo yang hadir dengan RAM 8GB di harga yang menggiurkan. Popularitasnya disebut-sebut mendorong Apple menggandakan target produksi MacBook Neo tahun ini dari 5 juta menjadi 10 juta unit. Kesuksesan ini kemudian diikuti oleh produsen Windows 11 yang ingin meniru formula harga terjangkau MacBook Neo.
Untuk tugas dasar seperti email, browsing, menonton video, dan dokumen ringan, laptop 8GB RAM masih sanggup bekerja dengan baik. MacBook Neo telah membuktikan hal ini. Namun, kekhawatiran utama terletak pada aspek future-proofing.
Jika Anda berencana memakai laptop selama lima tahun atau lebih, RAM 8GB kemungkinan akan terasa semakin terbatas. Apalagi jika peran AI dalam sistem operasi semakin dominan ke depannya. Masalahnya, sebagian besar laptop modern menyolder RAM ke motherboard, sehingga tidak bisa di-upgrade pengguna.
Kesimpulannya, membeli laptop Windows 11 dengan RAM 8GB saat ini masih oke untuk kebutuhan dasar. Tapi risiko keterbatasan di masa depan perlu jadi pertimbangan matang sebelum memutuskan membeli.