MALUKU UTARA — Shinnecock Hills kembali menunjukkan taringnya sebagai salah satu lapangan golf paling berat di dunia. Pada hari pembukaan US Open yang sempat tertunda dua jam akibat kabut tebal, hanya enam pegolf dari kelompok awal yang berhasil mencetak skor di bawah par. Angin kencang yang menerpa Long Island, New York, sejak pagi membuat lintasan sepanjang 7.440 yard ini terasa semakin kompleks.
Rory McIlroy termasuk dalam segelintir pegolf yang mampu bertahan dari keganasan Shinnecock. Memulai putaran dari hole 10, ia langsung mengemas dua birdie di tiga hole awal. Meski sempat kehilangan dua pukulan di hole 13 dan 16, juara Masters 2025 itu tidak goyah.
"Apa pun skor di bawah atau sekitar par adalah skor yang bagus," kata McIlroy, yang pernah memenangi US Open pada 2011 lalu. "Hari ini adalah hari untuk menjaga diri tetap di turnamen dan tidak menjatuhkan diri sendiri."
Pernyataan itu punya bobot historis. Pada US Open 2018 di tempat yang sama, McIlroy justru memulai dengan skor 80 dan gagal lolos cut. Kini, ia menunjukkan kedewasaan permainan yang berbeda.
Puncak penampilan McIlroy terjadi pada hole 5 par-5. Setelah pukulan tee-nya melesat 396 yard—terbantu arah angin—ia hanya butuh pukulan kedua setinggi 11 kaki dari lubang untuk mencatatkan eagle. Skor itu membuatnya bertengger di posisi terdepan bersama Sam Stevens, yang memimpin dengan skor 68.
Rekan setimnya di grup yang sama, Ludvig Aberg dari Swedia, juga mencatat 69. Sementara Tommy Fleetwood dari Inggris harus puas dengan skor 70 setelah birdie di dua hole terakhirnya.
Pebalap nomor satu dunia, Scottie Scheffler, justru mengalami hari yang berat. Ia hanya mampu membukukan dua-over 72 dengan empat birdie, empat bogey, dan satu double-bogey. Scheffler, yang tengah berusaha menjadi pemain ketujuh dalam sejarah yang meraih Grand Slam karier, tampak frustrasi saat bola iron-nya terus berputar menjauhi lubang.
Bukan hanya Scheffler yang menjadi korban. Keegan Bradley harus menyaksikan bolanya terguling mundur ke bunker di hole 11 yang terkenal rumit. Juara 2010 Graeme McDowell, yang tampil di US Open pertamanya dalam delapan tahun setelah lolos kualifikasi, bahkan menggambarkan Shinnecock sebagai "ruang penyiksaan" setelah ia mencatat 76.
Setelah kritik keras pada edisi 2004 dan 2018—ketika banyak pemain menuduh USGA "kehilangan kendali lapangan"—panitia penyelenggara tahun ini melakukan penyesuaian. John Bodenhamer, pejabat USGA yang bertanggung jawab atas set-up lapangan, mengakui pengalaman lalu tidak ideal. "Kami sudah banyak belajar," katanya. Sebagai langkah nyata, air terus disemprotkan ke green selama dua ronde pertama agar rumput tetap hidup dan tidak mengering.
Dengan cuaca yang diprediksi semakin kencang, McIlroy dan para pesaingnya harus terus bersabar. Shinnecock Hills belum selesai menunjukkan giginya.