MALUKU UTARA — Pengujian menempuh rute campuran sepanjang 550 km—meliputi jalan tol, jalur pegunungan, dan perkotaan—menghasilkan angka efisiensi yang nyaris sama persis dengan klaim pabrikan. Varian LFP ini diklaim memiliki jarak tempuh 463 km dengan konsumsi 7,3 km/kWh, setara 136,4 Wh/km. Angka tersebut merupakan salah satu efisiensi terbaik di kelasnya, mengungguli banyak kompetitor SUV listrik sekelas.
Performa pengisian daya juga menjadi nilai jual utama. Sesi pengisian di Supercharger dari 10 hingga 80 persen hanya membutuhkan waktu 24 menit. Lebih dari itu, kimia baterai LFP yang digunakan memberikan keuntungan tambahan yang tidak dimiliki varian NCA: kemampuan discharge daya hingga 12 kW untuk kebutuhan vehicle-to-everything (V2X) tanpa khawatir degradasi baterai.
Baterai ini juga bisa diisi hingga 100 persen setiap hari tanpa rasa khawatir, sebuah keunggulan praktis yang tidak dimiliki baterai berbasis NCA atau NMC. Meski begitu, teknologi LFP yang dipakai Tesla ini masih kalah canggih dibandingkan generasi terbaru dari BYD dan CATL.
Konsekuensi dari efisiensi maksimal adalah pengorbanan performa. Catatan 0-100 km/jam dalam 7,2 detik menjadikan Model Y RWD ini sebagai Tesla paling lambat yang pernah diproduksi. Sensasi tersebut langsung terasa saat pedal gas diinjak dalam—tidak ada ledakan tenaga khas Tesla yang selama ini menjadi daya tarik utama.
Pengorbanan juga terasa di kabin. Varian standar ini tidak dilengkapi kaca depan ganda (double-paned) sehingga isolasi suara angin kurang optimal. Atap kaca panoramik yang menjadi ciri khas Tesla juga tidak memiliki fitur peredup, membuat kabin terasa lebih sempit dan panas. Sistem audio 7-speaker-nya jelas mengecewakan, terutama jika dibandingkan dengan varian Premium.
Dari sisi dinamika berkendara, ini adalah Tesla yang paling tidak mirip Tesla. Karakter setir dan sasisnya terasa seperti SUV mainstream pada umumnya—presisi dan kestabilan khas Model 3 atau Model Y Performance tidak ditemukan di sini. Pedal rem yang menggunakan sistem brake-by-wire dengan mode blended juga membutuhkan waktu adaptasi karena feel-nya tidak natural.
Kelebihan terbesar justru datang dari sistem bantuan pengemudi. FSD (supervised) masih menjadi sistem Level 2 terbaik di Amerika Utara untuk navigasi point-to-point. Namun perlu dicatat, fitur Autosteer (lane-centering) kini tidak lagi tersedia di luar paket berlangganan FSD yang dipatok US$ 99 per bulan—sebuah perubahan kebijakan yang cukup kontroversial.
Dengan banderol US$ 39.990, varian ini memangkas US$ 6.000 dari harga varian Premium. Namun selisih tersebut juga menghilangkan sejumlah peralatan penting: atap kaca dengan fitur peredup, paket tow hook, dan peningkatan sistem audio. Untuk pasar Kanada, selisihnya bahkan lebih besar, mencapai CAD 15.000.
Secara keseluruhan, varian ini bukanlah terobosan EV murah yang pernah dijanjikan Tesla. Namun bagi konsumen yang memprioritaskan perangkat lunak, ekosistem Supercharger, dan efisiensi energi di atas sensasi berkendara, Model Y RWD standar ini tetap menjadi pilihan masuk yang paling rasional di lini Model Y. Skor akhir 80,2/100 mencerminkan keunggulan teknologinya, tetapi juga kelemahan signifikan pada pengalaman berkendara.