MALUKU UTARA — Pertumbuhan paylater perbankan masih menunjukkan laju ekspansif meski sedikit melambat dibandingkan posisi Mei 2026 yang mencapai 37,72% year on year. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menyampaikan bahwa kinerja ini ditopang oleh bank kelompok KBMI 1 dan KBMI 3 yang masih membukukan pertumbuhan dua digit.
Meski nilai absolutnya menembus Rp30 triliun, kontribusi paylater terhadap total kredit perbankan nasional masih relatif kecil, yakni sekitar 0,34%. Namun, perbaikan kualitas aset patut dicermati. NPL paylater turun dari 2,50% pada Mei 2026 menjadi 2,36% pada Juni 2026, menandakan profil risiko kredit yang semakin sehat di tengah ekspansi.
OJK menilai prospek bisnis paylater masih terbuka lebar seiring pesatnya perkembangan ekonomi digital dan perubahan perilaku konsumen. Beberapa faktor utama yang mendorong pertumbuhan tersebut antara lain:
Dengan total rekening mencapai 32,80 juta, rata-rata baki debet per rekening berada di kisaran Rp940.000. Angka ini mencerminkan karakteristik transaksi paylater yang mayoritas bernilai kecil dan bersifat konsumtif, berbeda dengan kredit konsumer konvensional yang umumnya memiliki tiket lebih besar.
Pertumbuhan dua digit yang dicetak oleh bank KBMI 1 dan KBMI 3 menunjukkan bahwa pemain dengan fokus ritel dan digital masih menjadi motor utama ekspansi produk ini. Sementara itu, bank besar (KBMI 4) cenderung lebih selektif dalam menyalurkan pembiayaan paylater seiring dengan manajemen risiko yang lebih ketat.
Dian menegaskan bahwa perkembangan paylater akan terus dipantau ketat oleh regulator, terutama dari sisi perlindungan konsumen dan mitigasi risiko kredit. "Paylater perbankan itu, kalau melihat data terakhir itu masih dapat tumbuh signifikan selama setahun terakhir," ujarnya dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK, Selasa (4/8/2026).
Meski pertumbuhan impresif, tantangan utama tetap pada perilaku pembayaran masyarakat di tengah tekanan daya beli. Perbaikan NPL menjadi sinyal positif, namun OJK mengingatkan agar bank tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran, terutama dalam memastikan kemampuan bayar debitur melalui skema scoring yang andal.
Ke depan, kompetisi paylater tidak hanya datang dari sesama bank, tetapi juga dari perusahaan teknologi finansial (fintech) yang menawarkan skema serupa. Sinergi antara perbankan dan ekosistem digital akan menjadi kunci untuk mempertahankan pertumbuhan berkualitas tanpa mengorbankan profil risiko.