Danantara Petakan Jaringan Transportasi BUMN, Bidik Biaya Logistik Lebih Murah

Penulis: Yasir  •  Kamis, 20 Agustus 2026 | 11:53:31 WIB
Kepala Badan Pengaturan BUMN sekaligus COO Danantara Indonesia, Dony Oskaria, memaparkan upaya pemetaan jaringan transportasi BUMN untuk menekan biaya logistik nasional.

MALUKU UTARA — Kepala Badan Pengaturan BUMN sekaligus COO Danantara Indonesia, Dony Oskaria, bersama tim Danantara Asset Management (DAM) tengah menggodok peta konektivitas nasional yang dikelola perusahaan-perusahaan pelat merah. Langkah ini bukan sekadar inventarisasi aset, melainkan upaya membedah secara menyeluruh simpul, rute, layanan, hingga hubungan antarmoda yang selama ini berjalan sendiri-sendiri di masing-masing BUMN.

"Sudah tidak zamannya lagi masyarakat tidak mendapatkan pelayanan yang baik. Karena itu, seluruh proses perlu terus dievaluasi," ujar Dony dalam keterangannya, Kamis (20/8).

Mencari Titik Macet dan Tumpang Tindih Rute

Pemetaan ini diarahkan untuk mengidentifikasi sejumlah persoalan klasik yang selama ini menghambat efisiensi logistik nasional. Beberapa di antaranya yang menjadi sorotan adalah missing link atau jalur yang terputus, bottleneck atau titik kemacetan, serta potensi tumpang tindih jaringan antar-BUMN yang justru bikin biaya operasional membengkak.

"Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya mengidentifikasi berbagai missing link, bottleneck, maupun potensi tumpang tindih jaringan yang dapat memengaruhi efektivitas konektivitas nasional," jelas Dony.

Setelah data terkumpul, Danantara akan melanjutkan ke tahap analisis awal, konsultasi dan validasi, hingga akhirnya merumuskan koridor logistik dan pilot project. Peta konektivitas ini kelak menjadi acuan utama dalam menentukan arah pengembangan transportasi dan logistik yang lebih terintegrasi di bawah payung Danantara.

Transformasi yang Harus Dirasakan Penumpang

Dony menegaskan bahwa transformasi sektor transportasi tidak boleh berhenti pada tataran bisnis semata. Ia mengingatkan seluruh jajaran agar fokus pada dampak nyata yang dirasakan masyarakat, bukan sekadar konsep di atas kertas.

"Kalau transformasi ini tidak dirasakan, ya percuma saja, hanya menjadi konsep di atas kertas," tegasnya.

Perhatian khusus juga diberikan pada pengalaman pengguna jasa transportasi. Dony meminta setiap tahap perjalanan dirancang secara menyeluruh, mulai dari sebelum keberangkatan, selama di perjalanan, hingga tiba di tujuan akhir.

"Kita harus memastikan sejak sebelum keberangkatan, misalnya saat naik kapal, pengalaman apa yang ingin dibangun. Lalu selama di perjalanan, layanan seperti apa yang harus dirasakan penumpang. Dan ketika tiba di tujuan, apa yang perlu dipastikan agar pengalaman tersebut tetap positif dan berkesan," paparnya.

Target: Biaya Logistik Lebih Efisien

Melalui pemetaan terintegrasi ini, konektivitas antarmoda diharapkan tidak hanya memperkuat jaringan transportasi BUMN, tetapi juga memberi manfaat ekonomi yang lebih luas. Danantara menyebut upaya ini sekaligus diarahkan untuk menekan biaya logistik nasional dan mengoptimalkan sinergi antar-BUMN dalam membangun ekosistem transportasi yang lebih terhubung.

Selama ini, biaya logistik Indonesia memang masih relatif tinggi dibandingkan negara tetangga, salah satunya akibat inefisiensi rute dan kurangnya integrasi antarmoda. Pemetaan yang dilakukan Danantara diharapkan menjadi fondasi awal untuk merombak tata kelola transportasi nasional yang lebih ramping dan efektif.

Dengan adanya peta konektivitas yang jelas, sinergi antar-BUMN seperti operator pelabuhan, kereta api, dan angkutan darat bisa berjalan lebih mulus. Pada akhirnya, masyarakat yang akan menikmati layanan lebih baik dengan biaya yang lebih terjangkau.

Reporter: Yasir
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top