Rakernas JKPI di Ternate Agustus 2026 Usung Tema Episentrum Rempah Dunia, Sembilan Agenda Siap Digelar

Penulis: Sutomo  •  Minggu, 23 Agustus 2026 | 15:31:31 WIB
Ternate resmi menjadi tuan rumah Rakernas XII JKPI pada 24–28 Agustus 2026 dengan tema "Ternate Episentrum Rempah Dunia".

TERNATE — Kota Ternate di Maluku Utara resmi ditunjuk menjadi tuan rumah Rakernas XII Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI). Perhelatan yang berlangsung 24–28 Agustus 2026 ini mengusung tema "Ternate Episentrum Rempah Dunia", sebuah upaya untuk merebut kembali panggung nasional dan internasional melalui warisan sejarah rempah.

Penetapan ini bukan sekadar ajang seremonial. JKPI menilai Ternate memiliki jejak panjang sebagai simpul perdagangan global, jauh sebelum istilah globalisasi dikenal.

Rempah Bukan Sekadar Komoditas, Melainkan Identitas Peradaban

Dr. Yanuardi Syukur, Dosen Antropologi Sosial Universitas Khairun Ternate, menegaskan bahwa cengkeh, pala, dan fuli yang tumbuh di tanah vulkanik Ternate bukanlah barang dagangan biasa. Ia adalah denyut yang menghubungkan Nusantara dengan Eropa, Asia, dan Timur Tengah selama berabad-abad.

Menurutnya, rempah merupakan sumber daya peradaban yang membentuk identitas masyarakat. Pandangan ini sejalan dengan catatan Melles, Sosna, dan Jehli?ka (2026) yang menyebut bahwa sumber daya muncul dari hubungan material dan konseptual antara manusia dan lingkungan.

"Menggunakan dan menghargai sumber daya adalah komponen penting dari kehidupan manusia," tulis Melles, Sosna, dan Jehli?ka dalam publikasi ilmiahnya.

9 Agenda Besar: dari Simposium Internasional hingga Pawai Budaya

Rakernas ini dirancang jauh dari kesan birokratis. Sembilan agenda besar akan mengisi rangkaian acara, yaitu Rapat Kerja Nasional, Simposium Internasional, Pentas Budaya, Expo/Pameran, Festival Gastronomi, Penyerahan Pataka, Pawai Budaya dan Karnaval, Heritage City Tour, serta City Tour.

Simposium Internasional menjadi salah satu daya tarik utama. Narasi tentang pulau-pulau penghasil rempah akan dihidupkan kembali, sehingga peserta tidak hanya menonton, tetapi memahami posisi strategis Ternate dalam lintasan sejarah dunia.

Jejak Sejarah: dari Suriah 3.500 Tahun Lalu hingga Surat Wallace

Sejarah rempah Maluku Utara adalah sejarah interaksi antarbangsa yang panjang. Bukti arkeologis menunjukkan cengkeh Maluku ditemukan sebagai arang dalam wadah keramik di kota kuno Suriah yang berusia lebih dari 3.500 tahun. Bahkan, rempah ini digunakan di Mesir sebagai bahan pengawet jenazah raja-raja sejak 3.000 tahun sebelum Masehi.

Pedagang Arab, Tiongkok, India, dan Jawa kerap berkunjung ke Ternate. Para pedagang Arab bahkan memberi nama kepulauan ini "Jazirah Al Mulk" atau Negeri Raja-Raja, merujuk pada empat kerajaan bahari: Ternate, Tidore, Jailolo, dan Bacan.

Pada abad ke-14, hubungan pelayaran antara pelabuhan Tuban dan Gresik dengan Ternate sudah berjalan rutin. Ini membuktikan Ternate bukan wilayah terisolasi, melainkan simpul penting jaringan perdagangan Nusantara dan dunia.

Transfer Pengetahuan yang Melahirkan Teori Evolusi

Interaksi antarbangsa yang lahir dari rempah juga menjadi wahana transfer pengetahuan. Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin pernah menegaskan bahwa rempah adalah bangunan sejarah peradaban yang plural, menjadi gerbang pertukaran antarbudaya dan ilmu pengetahuan.

Salah satu contoh paling terkenal adalah surat dari Ternate yang dikirim naturalis Inggris Alfred Russel Wallace kepada Charles Darwin pada 1858. Surat dari rumah kecil di Ternate itu berisi uraian teori seleksi alam yang kemudian memaksa Darwin mempublikasikan pemikirannya. Tanpa kekayaan biodiversitas Nusantara sebagai bahan observasi Wallace, teori evolusi mungkin butuh waktu jauh lebih lama untuk lahir.

Reporter: Sutomo
Sumber: tandaseru.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top