MALUKU UTARA — Suasana Lippo Mall Kemang berubah menjadi panggung apresiasi seni ketika Lomba Sihir membawakan lagu-lagu mereka di Styles LAND. Lebih dari sekadar pertunjukan musik, penampilan ini menjadi perayaan atas cerita dan keresahan yang dekat dengan keseharian anak muda perkotaan.
Styles LAND hadir sebagai konsep baru yang menggabungkan musik, kreativitas, dan komunitas dalam satu area. Kehadiran Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, menegaskan peran ruang ini dalam memperkuat ekosistem ekonomi kreatif nasional.
Inisiatif ini mempertemukan musisi, kreator, dan masyarakat dalam pengalaman yang lebih personal. Bukan sekadar tempat nongkrong, Styles LAND dirancang sebagai wadah interaksi langsung antara seniman dan pengunjung.
Lomba Sihir terbentuk dengan formasi Natasha Udu (vokal), Rayhan Noor (vokal dan gitar), Enrico Octaviano (drum), Tristan Juliano (kibor), dan Hindia (vokal). Mereka dikenal karena keberanian mengeksplorasi genre mulai dari pop, rock, country, hingga EDM.
Kekuatan utama band ini justru terletak pada lirik yang lahir dari percakapan dan pengalaman pribadi para personelnya. Pendekatan ini membuat karya mereka terasa jujur dan mudah diterima pendengar yang tumbuh di tengah perubahan sosial yang cepat.
Perjalanan bermusik mereka dimulai dengan album Selamat Datang di Ujung Dunia (2021). Album ini banyak terinspirasi dari pengalaman bertahan hidup di Jakarta dan dinamika kehidupan perkotaan yang kompleks.
Empat tahun berselang, Lomba Sihir merilis Obrolan Jam 3 Pagi (2025) dengan tema yang lebih intim. Album ini menyentuh persoalan cinta, kehilangan, harapan, dan penyesalan—topik yang sering muncul dalam diskusi-diskusi larut malam.
Karakter musik Lomba Sihir yang mampu terasa intim sekaligus enerjik menjadi alasan mereka cocok mengisi ruang seperti Styles LAND. Penampilan mereka membuktikan bahwa musik independen Indonesia memiliki tempat di tengah industri hiburan arus utama.
Kolaborasi antara band dan ruang kreatif semacam ini menjadi sinyal positif bagi perkembangan musik independen di Indonesia. Semakin banyak ruang yang membuka pintu bagi musisi lokal, semakin kaya pula warna industri musik nasional.