Keluhan Wisatawan di Korea Selatan Cetak Rekor 1.753 Kasus Januari-Juli 2026

Penulis: Fajar  •  Sabtu, 12 September 2026 | 19:31:31 WIB
KTO mencatat 1.753 keluhan wisatawan di Korea Selatan sepanjang Januari-Juli 2026.

MALUKU UTARA — Angka keluhan wisatawan di Korea Selatan sepanjang Januari-Juli 2026 sudah melewati total sepanjang tahun lalu. KTO mencatat 1.753 keluhan, sementara sepanjang 2025 hanya 1.744 kasus. Artinya, rekor tahunan sudah terlewati ketika tahun baru berjalan tujuh bulan.

Masalah yang dilaporkan beragam. Mulai dari sopir taksi yang menolak argometer, biaya pembatalan penginapan yang dinilai mencekik, hingga sikap pegawai toko yang tidak ramah. Wisatawan mancanegara mendominasi laporan, menyumbang 84,3% dari seluruh keluhan.

Akomodasi Jadi Sumber Keluhan Terbesar

Sektor penginapan mencatat 500 keluhan, terbanyak di antara semua kategori. Dua masalah utamanya: pembatalan reservasi secara sepihak oleh pihak akomodasi, dan biaya pembatalan yang dianggap terlalu tinggi.

Keluhan serupa soal toko menempati posisi kedua dengan 376 kasus. Isinya soal sikap tidak ramah dan dugaan harga yang terlalu mahal. Layanan bandara dan maskapai menyumbang 186 keluhan, sementara taksi 182 kasus — mulai dari penolakan argometer sampai perilaku berkendara yang ugal-ugalan.

Seoul dan Busan Menyumbang Keluhan Terbanyak

Secara wilayah, Seoul mencatat 665 kasus. Busan menyusul dengan 594 kasus, Incheon 176 kasus, dan Jeju 155 kasus.

Lonjakan di Busan berkaitan dengan konser BTS pada Juni 2026 yang menarik sekitar 110.000 wisatawan. Jumlah keluhan di kota itu lebih dari dua kali lipat dibandingkan sepanjang 2025 yang tercatat 239 kasus.

Wisatawan China dan Jepang Paling Banyak Melapor

Dari sisi asal negara, wisatawan China memimpin dengan 680 kasus. Berikutnya Jepang 263 kasus dan Taiwan 182 kasus. Keluhan dari tiga negara ini menunjukkan pola yang mirip: masalah akomodasi dan layanan transportasi.

Pemerintah dan pelaku industri pariwisata Korea Selatan kini mendorong langkah perbaikan. Salah satu yang jadi perhatian adalah aturan biaya pembatalan akomodasi yang dinilai berlebihan.

Pengalaman Buruk di Media Sosial Bisa Cepat Menyebar

Profesor pariwisata Universitas Kyung Hee, Yoon Ji-hwan, menilai peningkatan jumlah wisatawan juga diikuti bertambahnya keluhan.

"Seiring bertambahnya jumlah wisatawan dan berkembangnya industri pariwisata, keluhan dan indikator negatif lainnya juga meningkat," ujarnya.

Ia mengingatkan pengalaman buruk wisatawan yang dibagikan di media sosial dapat menyebar dengan cepat dan berdampak terhadap citra pariwisata Korea Selatan.

Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara sendiri telah menembus 10 juta orang sebelum akhir paruh pertama 2026 untuk pertama kalinya. Bagi traveler Indonesia yang berencana ke Korea Selatan, data ini bisa jadi acuan: pastikan kebijakan pembatalan akomodasi dibaca detail sebelum memesan, dan simpan bukti transaksi jika terjadi sengketa.

Reporter: Fajar
Sumber: travel.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top