MALUKU UTARA — Nilai tukar rupiah menguat 32 poin atau 0,18% ke level Rp 17.721 per dolar AS pada perdagangan Jumat (18/9), setelah sempat tertekan ke Rp 17.753 pada sesi sebelumnya. Penurunan harga minyak mentah dunia menjadi sentimen utama yang menopang pergerakan mata uang Garuda. Analis memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp 17.700–Rp 17.800 sepanjang hari ini.
Rupiah membuka perdagangan di level Rp 17.743 per dolar AS, menguat 10 poin atau 0,06% dari penutupan sebelumnya. Pantauan hingga pukul 09.06 WIB menunjukkan penguatan berlanjut ke Rp 17.721 per dolar AS, naik 0,18% atau 32 poin dibanding posisi terakhir.
Pada perdagangan sebelumnya, rupiah ditutup di Rp 17.753 per dolar AS, setelah sempat melemah hingga 60 poin. Pergerakan hari ini membalikkan tekanan yang terjadi di sesi tersebut.
Analis Doo Financial Lukman Leong menilai penurunan harga minyak mentah global menjadi faktor utama di balik proyeksi penguatan rupiah. Pasar merespons harapan bahwa Arab Saudi akan memulihkan sekitar setengah dari pasokan minyak yang terdampak dalam beberapa hari ke depan.
"Rupiah diperkirakan menguat terhadap dolar AS seiring penurunan harga minyak mentah dunia, menyusul harapan bahwa Arab Saudi akan memulihkan sekitar setengah dari pasokan yang terdampak dalam beberapa hari ke depan," kata Lukman.
Melansir Reuters, harga minyak Brent untuk kontrak pengiriman November 2026 turun US$ 1,01 atau 1% menjadi US$ 103,77 per barel pada pukul 00.20 GMT. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) AS melemah US$ 1,03 atau 1% menjadi US$ 100,88 per barel. Kedua harga acuan tersebut sebelumnya juga ditutup turun sekitar 1% pada Kamis (17/9).
Penurunan harga minyak terjadi ketika pasar mulai memperkirakan adanya sejumlah jalur alternatif untuk menjaga aliran minyak dari Timur Tengah ke pasar global. Perkembangan ini mengurangi kekhawatiran terhadap risiko gangguan pasokan yang sempat menekan sentimen.
Tekanan pada indeks dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS turut memperkuat posisi rupiah. Kombinasi pelemahan dolar dan penurunan yield obligasi AS biasanya memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang untuk menguat.
Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak pada kisaran Rp 17.700–Rp 17.800 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Rentang tersebut mencerminkan potensi penguatan lanjutan, meski masih terbuka ruang fluktuasi jangka pendek.
Bagi pelaku pasar, pergerakan rupiah hari ini akan menjadi acuan awal sebelum data-data ekonomi berikutnya dirilis. Posisi Rp 17.700 menjadi level psikologis yang perlu dicermati, sementara Rp 17.800 menjadi batas bawah jika tekanan eksternal kembali muncul.