MALUKU UTARA — EBITDA Telkom tercatat Rp18,0 triliun dengan margin 48,3 persen. Namun laba bersih terkontraksi menjadi Rp4,3 triliun—turun dari posisi tahun lalu—karena dampak percepatan depresiasi yang bersifat non-kas. Setelah dinormalisasi, laba bersih mencapai Rp5,1 triliun dengan margin 13,8 persen.
Manajemen menegaskan tekanan ini hanya sementara dan tidak menggerus fundamental bisnis. Arus kas operasional yang tumbuh 3,1 persen menjadi Rp17,3 triliun menjadi bukti disiplin operasional berjalan efektif, terutama dari program efisiensi TOTEX dan perbaikan sistem penagihan.
Bisnis Digital dan Kenaikan ARPU Jadi Motor Segmen B2C
Di lini konsumen, Telkomsel membukukan pendapatan konsolidasi Rp27,6 triliun atau tumbuh 1,3 persen year-on-year. Pertumbuhan ini ditopang oleh pendapatan bisnis digital dan kenaikan payload data sebesar 2,3 persen.
Yang menarik, pendapatan rata-rata per pengguna (ARPU) melesat 6,4 persen menjadi Rp45.100. Angka ini mencerminkan strategi disiplin harga, penyederhanaan produk, serta pengalaman pelanggan yang lebih baik. "Ini menunjukkan perbaikan pasar yang semakin sehat dan kondisi industri yang lebih rasional," ujar Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini.
Transformasi TLKM 30 dan Optimisme di Sisa Tahun
Dian menambahkan, pencapaian kuartal pertama menjadi modal untuk mengakselerasi strategi TLKM 30. "Kinerja ini menjadi awal yang baik dan motivasi bagi TelkomGroup untuk terus melakukan perbaikan secara bertahap," katanya.
Ke depan, Telkomsel akan fokus menjaga ARPU melalui inovasi layanan digital lifestyle yang selaras dengan kebutuhan masyarakat. Menurut Dian, prospek industri telekomunikasi masih cerah karena konektivitas dan internet sudah menjadi kebutuhan primer.
Dengan fundamental operasional yang solid dan arus kas yang terus menguat, Telkom optimistis mampu menavigasi sisa tahun 2026 di tengah ketidakpastian makroekonomi global.