MALUKU UTARA — Tekanan terhadap rupiah masih berlanjut di sesi awal perdagangan Selasa (2/6/2026). Berdasarkan data pasar, mata uang Garuda berada di Rp 17.864 per dolar AS pada pukul 09.38 WIB. Pergerakan ini memperpanjang tren pelemahan dalam beberapa pekan terakhir di tengah kuatnya indeks dolar global.
Kurs BCA: e-Rate, TT Counter, hingga Special Rate
BCA menawarkan tiga kategori kurs untuk transaksi dolar AS hari ini. Untuk nasabah yang bertransaksi lewat e-Banking, e-Rate beli dipatok Rp 17.878 dan jual Rp 17.898 per dolar. Sementara itu, transaksi melalui teller (TT Counter) dan bank notes memiliki rentang lebih lebar: beli Rp 17.690 dan jual Rp 17.940 per dolar AS.
Khusus nasabah dengan nominal transaksi di atas ekuivalen 25.000 dolar AS, BCA menyediakan special rate. Kurs indikasi untuk kategori ini adalah beli Rp 17.865 dan jual Rp 17.895 per dolar AS. Bank menyarankan nasabah menghubungi cabang terdekat untuk mendapatkan kurs pasti sebelum eksekusi transaksi.
Kurs Mandiri: Selisih Tipis di Transaksi Besar
Bank Mandiri mematok kurs TT Counter untuk transaksi di kantor cabang pada level beli Rp 17.640 dan jual Rp 17.940 per dolar AS. Sementara untuk transaksi bank notes, posisi beli sedikit lebih rendah di Rp 17.625 dan jual Rp 17.925 per dolar AS. Perbedaan kurs antara jual dan beli yang mencapai lebih dari Rp 300 menunjukkan spread yang cukup lebar untuk transaksi eceran.
Kurs BNI: Patokan untuk Transaksi Valas
BNI juga menetapkan kurs acuan yang tidak jauh berbeda dengan dua bank lainnya. Nasabah dapat mengecek kurs real-time melalui layanan e-Banking atau langsung di cabang. Seperti halnya BCA dan Mandiri, BNI menerapkan ketentuan Bank Indonesia terkait kewajiban penyampaian dokumen underlying untuk transaksi valas dalam jumlah tertentu.
Apa Arti Pelemahan Rupiah bagi Investor dan Pelaku Bisnis?
Bagi importir, pelemahan rupiah ke Rp 17.864 berarti biaya pembelian bahan baku dan barang modal dalam dolar AS semakin mahal. Sebaliknya, eksportir mendapat keuntungan karena penerimaan dalam dolar AS bernilai lebih tinggi saat dikonversi ke rupiah. Investor yang memegang aset berbasis dolar AS juga diuntungkan secara nilai tukar.
Namun, pergerakan IHSG yang tetap menguat ke 6.217 di tengah pelemahan rupiah menunjukkan bahwa sentimen pasar saham masih ditopang oleh faktor domestik, seperti data ekonomi atau aksi korporasi emiten tertentu, yang mampu mengimbangi tekanan eksternal dari penguatan dolar.