Pencarian

Tradisi Ngibi dari Buton yang Mengakar di Desa Soligi Halmahera Selatan, Begini Filosofi di Balik Gerak Tarinya

Selasa, 09 Juni 2026 • 16:39:01 WIB
Tradisi Ngibi dari Buton yang Mengakar di Desa Soligi Halmahera Selatan, Begini Filosofi di Balik Gerak Tarinya
Doa pembuka pagelaran Tari Ngibi di Desa Soligi menegaskan kaitannya dengan spiritualitas Islam.

Pagelaran dibuka dengan doa yang dipimpin imam desa, menegaskan bahwa Tari Ngibi berkelindan erat dengan spiritualitas Islam. Setelah itu, tokoh adat membuka gelanggang dengan hentakan pencak silat sebagai simbol meretas jalan bagi generasi penerus.

Arena kemudian diisi oleh Tari Cungka yang dibawakan penari perempuan, melambangkan siklus awal kehidupan manusia di dalam kandungan. Pesan itu disambung dengan Tari Ngibi, tarian berpasangan yang merepresentasikan syukur atas ditiupkannya roh ke dalam raga.

Dalam gerak gemulai Ngibi, penari laki-laki pantang menyentuh penari perempuan. Hal itu menjadi simbol penghormatan tertinggi bagi perempuan sebagai perawat kehidupan.

Tokoh adat Desa Soligi, Imam La Puasa, menjelaskan setiap gerak dan tahapan dalam kesenian Ngibi mengandung pesan moral, nilai kehidupan, serta jejak sejarah perjalanan masyarakat Buton yang diwariskan dari generasi ke generasi.

“Ngibi bukan sekadar hiburan. Di dalamnya ada nasihat, ada sejarah, dan ada identitas yang diwariskan oleh leluhur kami. Karena itu, tradisi ini harus terus dijaga agar anak cucu tidak melupakan asal-usulnya,” ujarnya.

Dari Syukur Panen ke Perayaan Iduladha: Transformasi Tradisi yang Tetap Hidup

Jika dahulu Tari Ngibi menjadi wujud syukur pascapanen raya, kini kesenian tersebut bertransformasi mewarnai berbagai perhelatan sosial, termasuk perayaan Iduladha. Momentum pagelaran kali ini juga berdekatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun Kabupaten Halmahera Selatan pada 9 Juni.

Usai perenungan filosofis lewat tari, gelanggang kembali bergemuruh. Anak-anak Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) unjuk gigi beradu pencak silat. Diiringi sorak-sorai warga, adu ketangkasan ini hadir sebagai simbol sportivitas dan semangat ksatria generasi muda Soligi.

Industri Jadi Katalis: Kolaborasi dengan Harita Nickel untuk Melawan Abrasi Budaya

Kepala Desa Soligi, Madaisi La Siriali, menegaskan kemeriahan malam itu adalah wujud perjuangan melawan abrasi budaya. Kegiatan yang didukung Harita Nickel ini merupakan kerja sama pemerintah desa dan tokoh adat.

“Mari kenali dan lestarikan identitas kita, untuk membina generasi muda agar terus menjaga budayanya,” tuturnya.

Di tengah tumbuhnya kawasan industri, masyarakat Soligi menunjukkan bahwa perubahan tidak harus memutus hubungan dengan akar budaya. Community Relations Supervisor Harita Nickel, Wigit Yan Sukmawan, menyampaikan kehadiran perusahaan bersandar pada penghormatan terhadap kearifan lokal.

“Bagi kami, budaya lokal adalah bagian dari identitas masyarakat yang perlu dijaga bersama. Tari Ngibi bukan sekadar pertunjukan, tetapi warisan nilai dan sejarah masyarakat Soligi. Karena itu, perusahaan ingin turut mendukung agar tradisi ini tetap hidup dan terus dikenal oleh generasi muda,” ujar Wigit.

Malam semakin larut, namun gelanggang di Soligi tak kunjung sepi. Anak-anak dan remaja masih bergantian menari dan memainkan pencak silat di hadapan warga. Mereka bukan sekadar tampil dalam sebuah pagelaran, tetapi sedang belajar mengenali warisan budaya yang telah lama hidup di pesisir Obi. Di tangan generasi muda inilah, tradisi itu dijaga agar tetap berdenyut dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Bagikan
Sumber: tandaseru.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks