Di luar kopi pagi di Benteng Oranje atau nongkrong di Pantai Sulamadaha, ada sisi lain kehidupan sosial di Maluku Utara yang jarang tersorot. Komunitas hobi di sini tumbuh dari inisiatif anak-anak muda yang capek dengan rutinitas kantor atau kuliah. Mereka butuh ruang ngobrol, olahraga, atau sekadar jalan-jalan tanpa agenda formal. Beberapa sudah eksis bertahun-tahun, ada juga yang baru merangkak lagi pasca-pandemi.
Kalau kamu baru pindah ke Ternate, Tidore, atau Sofifi, atau cuma numpang lewat beberapa bulan, gabung komunitas ini bisa jadi jalan pintas dapet teman sekaligus kenal medan lokal. Enggak perlu modal besar—cukup niat dan perlengkapan seadanya. Berikut lima komunitas yang pintunya masih terbuka lebar.
1. Komunitas Pendaki Maluku Utara (KPMU)
Gunung Gamalama di Ternate bukan cuma latar foto Instagram. Buat anggota KPMU, gunung setinggi 1.715 meter itu adalah tempat latihan rutin tiap akhir pekan. Komunitas ini terbuka untuk semua level, dari yang belum pernah naik gunung sampai yang sudah hafal setiap jalur setapak.
Mereka biasanya ngumpul subuh di bawah Taman Nukila, lalu naik lewat jalur Batu Angus. Jangan bayangkan pendakian mewah—bekal air dan roti sendiri, sepatu seadanya, itu sudah cukup. “Yang penting bukan perlengkapannya, tapi mental dan kekompakan,” kata salah satu anggota senior yang sudah 12 kali naik-turun Gamalama.
Selain Gamalama, mereka sesekali ekspedisi ke Gunung Kie Besi di Tidore atau Gunung Sabale di Halmahera. Informasi jadwal kumpul biasanya menyebar lewat grup WhatsApp. Cari saja di pencarian “KPMU Ternate” atau tanya langsung ke anak-anak basecamp di sekitar Kelurahan Kalumpang.
2. Ternate Skateboarding Crew
Skateboard di kota kecil? Bisa. Komunitas ini buktinya. Mereka biasa berlatih di area parkir Lapangan Merdeka Ternate atau di trotoar sekitar Pelabuhan Ahmad Yani—asalkan tidak mengganggu pejalan kaki. Anak-anaknya campuran, dari pelajar SMA sampai pekerja swasta.
Yang bikin unik, mereka juga bikin acara tahunan “Ternate Skate Day” yang biasanya digelar pas libur panjang. Lomba ollie, manual, atau sekadar jam session pakai speaker portable. Enggak ada biaya pendaftaran, cuma bawa papan sendiri. Kalau belum punya papan, biasanya ada anggota yang mau pinjamin buat coba-coba.
Mereka cukup aktif di Instagram dengan nama akun @ternateskate. Dari situ kamu bisa lihat kapan jadwal latihan berikutnya. Tempat nongkrong mereka setelah latihan? Warung es campur di samping Masjid Al-Munawwar.
3. Fotografer Jalanan Ternate (FJT)
Bukan komunitas fotografer profesional dengan kamera sejutaan. FJT lebih ke gerakan “street photography” yang isinya orang-orang biasa yang suka motret kehidupan sehari-hari. Target mereka: pasar tradisional, aktivitas nelayan di Dufa-Dufa, atau anak-anak main bola di lapangan tanah.
Setiap Minggu pagi, mereka ngumpul jam 6 di depan Kedaton Sultan Ternate, lalu jalan kaki menyusuri Jalan Merdeka sambil motret. Hasil foto lalu dibahas bareng—bukan untuk pamer, tapi saling kasih masukan soal komposisi dan cahaya. Anggotanya sekitar 20-30 orang, dan pendatang baru selalu diterima.
Tidak perlu kamera mahal. Banyak anggota yang cuma pakai kamera HP, asal mau belajar. “Yang penting mata, bukan alatnya,” begitu prinsip mereka. Cari grup “Fotografer Jalanan Ternate” di Facebook atau tanya ke komunitas kafe di sekitar Kelurahan Tanah Tinggi.
4. Komunitas Selancar Sofifi
Ombak di pesisir Sofifi, ibu kota provinsi Maluku Utara, mulai dilirik peselancar lokal. Komunitas ini relatif baru—baru setahun terakhir aktif—tapi anggotanya sudah menyebar sampai Jailolo dan Sidangoli. Spot utama mereka di Pantai Ake Sahu dan sekitar Tanjung Bongo.
Kalau kamu pemula, jangan khawatir. Beberapa anggota senior biasa ngajarin dasar-dasar paddle dan pop-up. Bahkan ada yang bawa papan cadangan buat dipinjamkan. Mereka biasanya turun ke laut pas pagi buta, sekitar jam 5-6, sebelum ombak naik dan angin kencang.
Komunitas ini tidak punya basecamp tetap. Informasi kumpul menyebar dari mulut ke mulut atau lewat grup Telegram. Cara paling gampang: datang ke Pantai Ake Sahu pas Sabtu pagi, pasti ada beberapa orang dengan papan selancar di pinggir pantai. Sapa aja, mereka ramah.
5. Komunitas Motor Trail Halmahera (KMTH)
Jalanan Halmahera yang berbukit dan berlumpur adalah surga buat penggemar motor trail. KMTH adalah kumpulan pengendara motor trail yang rutin jelajah jalur off-road di sekitar Kota Sofifi, Payahe, sampai Oba. Mereka tidak punya agenda tetap, tapi biasanya ngumpul tiap dua pekan sekali.
Rute favorit mereka adalah jalur Sofifi menuju Pantai Bobane, medannya campuran tanah merah, bebatuan, dan sungai kecil. Perjalanan bisa memakan waktu 3-4 jam sekali trip. Anggotanya dari berbagai usia, ada yang bawa motor bebek modifikasi, ada juga yang pakai motor trail bawaan pabrik.
Yang menarik, komunitas ini sering kerja sama dengan warga desa setempat—misalnya bantu bawa logistik ke kampung yang jalannya rusak parah. Jadi bukan cuma hobi, ada sisi sosialnya. Buat yang mau gabung, cari “KMTH Halmahera” di Instagram atau tanya ke bengkel motor di Jalan Hasan Boesoeri, Sofifi.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah ada biaya pendaftaran untuk bergabung dengan komunitas-komunitas ini?
Tidak ada. Semua komunitas di atas gratis. Kalau ada yang minta uang pendaftaran, kemungkinan besar itu penipuan. Cukup datang langsung atau hubungi lewat media sosial.
Saya pemula, apakah akan diterima dengan baik?
Sangat. Komunitas di Maluku Utara umumnya terbuka. Mereka lebih menghargai niat belajar daripada kemampuan. Datang saja dengan sopan, perkenalkan diri, biasanya langsung diajak ngopi.
Bagaimana cara mengetahui jadwal kegiatan terbaru?
Sebagian besar menyebarkan info lewat grup WhatsApp atau Instagram. Untuk komunitas selancar dan trail, lebih sering dari mulut ke mulut. Cara paling efektif: hadir sekali, lalu minta dimasukkan ke grup.
Apakah ada komunitas hobi lain selain lima di atas?
Ada, misalnya komunitas pecinta burung kicau di Tidore atau grup bersepeda santai “Gowes Ternate”. Tapi komunitas yang disebut di atas adalah yang paling aktif dan mudah ditemui saat ini.
Saya hanya tinggal sementara di Maluku Utara, apakah worth it gabung?
Tentu. Banyak anggota yang perantau atau mahasiswa dari luar daerah. Justru lewat komunitas kamu bisa dapet teman, tahu tempat makan enak, sampai info kosan atau kontrakan murah.
Maluku Utara mungkin kecil di peta, tapi komunitas hobi di sini membuktikan bahwa kota kecil tidak berarti membosankan. Cukup cari satu komunitas yang cocok, sisanya akan mengalir. Tidak perlu malu—anggota baru selalu disambut dengan kopi dan cerita.