Pencarian

BMKG Catat Gangguan Geomagnetik dan Petir Vulkanik saat Erupsi Anak Krakatau

Senin, 07 September 2026 • 15:19:01 WIB
BMKG Catat Gangguan Geomagnetik dan Petir Vulkanik saat Erupsi Anak Krakatau
Petir vulkanik terlihat menyambar di atas kepulan abu saat erupsi Anak Krakatau yang terekam dari pos pemantau.

MALUKU UTARA — Intensitas gangguan geomagnetik yang terekam meningkat seiring bertambahnya frekuensi sambaran petir vulkanik, meski belum sebesar saat letusan awal. Plh. Deputi Bidang Geofisika BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengonfirmasi keterkaitan langsung antara keduanya dalam keterangan resmi yang dirilis Minggu (6/9).

Mekanisme Ionisasi di Balik Petir Vulkanik

Proses terbentuknya petir vulkanik memiliki kemiripan dengan petir konvensional, namun dengan pemicu yang berbeda. Petir biasa lahir dari pemisahan muatan di dalam awan Cumulonimbus (Cb) akibat perubahan wujud dan pergerakan partikel air.

Uap air yang naik ke atmosfer membeku menjadi butiran es. Saat butiran es itu jatuh dan bertabrakan dengan partikel lain, terjadi ionisasi—elektron terlepas dan berkumpul di bagian bawah awan. Bagian atas awan pun bermuatan positif, sementara bagian bawahnya negatif, menciptakan beda tegangan hingga 100 juta volt.

Peran Suhu Ekstrem dan Partikel Abu

Pada kasus gunung berapi, sumber ionisasinya berbeda. Suhu erupsi yang sangat panas, mencapai sekitar 1.227 derajat Celcius, memicu ionisasi atom-atom debu netral dalam kepulan abu. Hasilnya, ion positif dan negatif terbentuk dalam jumlah besar.

Pemisahan muatan kemudian terjadi karena perbedaan ukuran dan berat partikel. Ion negatif umumnya lebih besar dan lebih berat, sehingga bergerak lebih lambat dibanding ion positif yang ringan. Perbedaan kecepatan jatuh ini—ditambah tumbukan antarpartikel atau aerodynamic sorting—menciptakan beda potensial listrik yang akhirnya dilepaskan sebagai sambaran petir.

Signifikansi Pemantauan Geomagnetik

Data gangguan geomagnetik yang dikumpulkan BMKG dari stasiun di Lampung Selatan dan Serang menjadi indikator penting untuk memantau dinamika erupsi. Sensor tersebut mampu menangkap perubahan medan magnet bumi yang dipicu oleh aktivitas listrik di atmosfer, memberikan gambaran tentang skala dan intensitas letusan yang sedang berlangsung.

Pemantauan berkelanjutan terhadap fenomena sekunder ini membantu otoritas terkait dalam mengevaluasi potensi bahaya erupsi, khususnya yang berkaitan dengan gangguan pada sistem komunikasi dan navigasi di sekitar area terdampak.

Follow halmahera24.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: cnnindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks