TERNATE — Badan Pusat Statistik Provinsi Maluku Utara mencatat NTP Oktober 2026 sebesar 100,80, naik dari 99,98 pada September. Angka itu dirilis Plt. Kepala BPS Maluku Utara Harim Arrosid pada Rabu, 4 November 2026. NTP dipakai untuk mengukur daya beli petani di perdesaan serta daya tukar produk pertanian terhadap barang dan jasa yang dikonsumsi maupun biaya produksi.
Pada September, NTP masih di bawah 100. Artinya harga yang harus dibayar petani lebih besar dari harga yang mereka terima. Posisi itu berbalik pada Oktober.
Hortikultura dan Perikanan Jadi Penopang Pemulihan
Dari pemantauan harga di 7 kabupaten, kenaikan NTP disumbang empat subsektor. Tanaman Hortikultura memberi andil terbesar dengan 6,31 persen, disusul Perikanan 2,16 persen, Tanaman Pangan 0,96 persen, dan Tanaman Perkebunan Rakyat 0,27 persen.
Subsektor Peternakan satu-satunya yang turun, yakni 0,26 persen. "Sementara itu, 1 subsektor mengalami penurunan, yakni Subsektor Peternakan sebesar 0,26 persen," ujar Harim Arrosid.
NTUP Naik 1,24 Persen, Usaha Tani Dinilai Semakin Menguntungkan
Indikator lain, Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) Maluku Utara, tercatat 104,77 pada Oktober 2026. Angka itu naik 1,24 persen dari 103,48 pada September 2026.
NTUP hanya menghitung biaya produksi pertanian, tanpa memasukkan biaya konsumsi rumah tangga. Kenaikan NTUP menunjukkan usaha tani di Maluku Utara semakin menguntungkan.
"Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) juga menunjukkan tren yang sama. Pada Oktober 2026, NTUP Maluku Utara sebesar 104,77, naik 1,24 persen dibandingkan September 2026 yang sebesar 103,48," kata Harim.
Biaya Hidup Perdesaan Ikut Naik, Tapi Lebih Lambat
Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) Maluku Utara berada di 136,71 pada Oktober 2026. Nilai itu naik 0,38 persen dibanding September 2026 yang sebesar 136,19.
Kenaikan IKRT menandakan biaya hidup di perdesaan ikut naik. Namun laju kenaikannya masih lebih kecil dibandingkan kenaikan harga jual hasil pertanian, sehingga daya beli petani tetap membaik.
Dengan capaian ini, petani Maluku Utara kembali pada posisi yang lebih baik setelah sempat tertekan pada September lalu. Kenaikan harga di subsektor hortikultura dan perikanan menjadi penopang utama pemulihan daya beli petani di daerah.