HALMAHERA BARAT — Gunung Ibu yang memiliki ketinggian 2.125 meter di atas permukaan laut itu erupsi pada pukul 09.24 WIT. Berdasarkan laporan Badan Geologi Kementerian ESDM, erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 28 milimeter dan durasi sekitar 4 menit 1 detik.
Kepala Badan Geologi, Lana Saria, dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Selasa, menyebutkan bahwa kolom abu terlihat berwarna kelabu dengan intensitas tebal. Arah luncuran abu menjauhi puncak menuju barat laut.
Saat ini, status Gunung Ibu masih berada di Level II atau Waspada. Penetapan status ini belum berubah sejak beberapa pekan terakhir, meskipun erupsi terjadi hampir setiap hari dengan intensitas bervariasi.
Badan Geologi merekomendasikan agar masyarakat di sekitar gunung, termasuk pengunjung dan wisatawan, tidak melakukan aktivitas di dalam radius dua kilometer dari kawah aktif. Larangan juga diperluas hingga 3,5 kilometer ke arah bukaan kawah di bagian utara gunung.
Lana Saria mengimbau warga yang beraktivitas di luar rumah untuk menggunakan pelindung hidung dan mulut berupa masker, serta pelindung mata berupa kacamata. Imbauan ini terutama berlaku saat terjadi hujan abu vulkanik yang bisa mengganggu saluran pernapasan dan penglihatan.
"Masyarakat diminta untuk menjaga kondusivitas suasana dengan tidak menyebarkan narasi bohong serta tidak terpancing oleh isu-isu yang tidak jelas sumbernya terkait aktivitas vulkanik ini," ujar Lana dalam pernyataan tertulisnya.
Pemerintah Kabupaten Halmahera Barat diharapkan terus berkoordinasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi atau Pos Pengamatan Gunung Ibu yang berada di Gam Ici. Koordinasi ini penting untuk mendapatkan data dan rekomendasi terkini terkait aktivitas vulkanik.
Masyarakat Pulau Halmahera juga diminta memantau perkembangan aktivitas gunung api secara berkala melalui aplikasi Magma Indonesia milik pemerintah. Aplikasi ini menyediakan data real-time terkait status gunung api dan rekomendasi keselamatan.