Pemilik Rivian R1T dan R1S Gugat Pabrikan, Janji Fitur Self-Driving Tak Kunjung Terealisasi

Penulis: Yasir  •  Jumat, 19 Juni 2026 | 11:55:31 WIB
Pemilik Rivian R1T dan R1S generasi pertama mengajukan gugatan terkait janji fitur self-driving yang belum terealisasi.

MALUKU UTARA — Gugatan yang diajukan oleh tiga pemilik bernama itu menyebut Rivian secara sistematis menjanjikan sistem bantuan pengemudi hands-free—atau setara Level 3 otonomi menurut standar Society of Automotive Engineers (SAE)—pada kendaraan generasi pertama mereka sejak 2019. Padahal, secara teknis, perangkat keras (hardware) pada model awal tidak mendukung fitur tersebut.

Janji CEO dan Kampanye Nasional

Dalam dokumen gugatan, pengacara dari Coleman Law dan Tycko & Zavareei menyoroti pernyataan CEO RJ Scaringe di ajang TechCrunch Disrupt 2022. Scaringe saat itu disebut membahas ambisi otonom Rivian yang kemudian diartikan konsumen sebagai jaminan fitur akan hadir lewat pembaruan perangkat lunak (software update).

“Tidak ada pembaruan perangkat lunak—secanggih apa pun—yang bisa membuat kendaraan Generasi 1 berfungsi seperti yang diiklankan,” bunyi kutipan gugatan. “Rivian pasti tahu kendaraan Gen 1 tidak akan pernah mampu mencapai Level 3, namun terus mempromosikannya untuk mendorong pembelian.”

Perbedaan Generasi: Gen 1 vs Gen 2

Rivian R1T dan R1S generasi pertama yang dirilis 2022 memang tidak memiliki sistem hands-free driving. Sebaliknya, model generasi kedua yang diperbarui pada 2024 justru dibekali “Rivian Autonomy Platform.” Platform ini mencakup 11 kamera, lima sensor radar, dan komputer sepuluh kali lebih bertenaga dari sistem pendahulunya.

Fitur Universal Hands-Free pun baru dirilis tahun lalu melalui pembaruan over-the-air untuk Gen 2. Fitur ini memungkinkan pengemudi melepas tangan dari setir di lebih dari 3,5 juta mil jalan di AS dan Kanada, termasuk jalan tol dan jalan raya biasa—asalkan marka jalur terlihat jelas.

Rivian Bukan Satu-satunya yang Digugat

Kasus serupa juga menimpa Tesla. Sejumlah pemilik Tesla menggugat perusahaan Elon Musk itu karena janji Full Self-Driving (FSD) yang tak kunjung terealisasi secara penuh tanpa pengawasan. Bahkan, Departemen Kendaraan Bermotor California (DMV) pernah memenangkan gugatan terhadap Tesla atas iklan menyesatkan soal Autopilot dan FSD, meski akhirnya tidak menjatuhkan sanksi pencabutan izin jual karena Tesla menghentikan penggunaan istilah “Autopilot” di pemasaran California.

Dampak Hukum dan Langkah Selanjutnya

Gugatan class action ini mencakup tuduhan penipuan (fraud), negligent misrepresentation, dan unjust enrichment. Para penggugat meminta persidangan dengan juri. Rivian sendiri menolak berkomentar karena kasus masih berjalan.

Ini bukan pertama kalinya Rivian berurusan dengan pengadilan. Tahun lalu, perusahaan setuju membayar USD 250 juta (sekitar Rp 4,1 triliun) untuk menyelesaikan gugatan pemegang saham terkait kenaikan harga mendadak R1 pada 2022.

Bagi pemilik Rivian Gen 1 di Indonesia—meski jumlahnya masih sangat terbatas—kasus ini menjadi pengingat untuk mencermati klausul fitur otonom dalam brosur dan kontrak pembelian. Janji over-the-air update memang menarik, tapi belum tentu terealisasi tanpa dukungan hardware yang memadai.

Reporter: Yasir
Sumber: techcrunch.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top