MALUKU UTARA — Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, buka suara di tengah ketidakpastian yang menyelimuti nasib saham WSKT. Ia menegaskan bahwa upaya penyehatan Waskita tidak boleh setengah-setengah. Targetnya bukan sekadar memperbaiki citra di permukaan, tetapi menyelesaikan masalah fundamental hingga tuntas.
"Prinsipnya kembali lagi, bahwa kita ingin melakukan proses penyehatan ini secara fundamental dan real. Intinya saya tidak ingin bahwa, oh sudah dibetulin, seolah-olah nanti meledak lagi. Saya tidak ingin bekerja seperti itu. Saya ingin bekerja betul-betul, kalau sudah disehatkan secara fundamental dia harus sehat," ujar Dony saat ditemui di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (18/8/2026).
Dony mengakui bahwa perubahan status pencatatan saham Waskita di bursa merupakan bagian dari skenario transformasi yang sedang dikaji. Namun, keputusan tersebut bukanlah tujuan utama, melainkan konsekuensi yang mungkin timbul dari proses penyehatan yang tengah berjalan.
"Apa risiko yang diikutinya itu tentu kita kaji. Apakah nanti dia ada delisting atau apa, itu part of the proses transformasi yang harus kita hadapi. Tetapi yang paling penting itu, perusahaan ini tidak lagi hanya sekedar cover-nya yang baik. Kita ingin secara fundamentalnya memang baik. Inilah makanya pekerjaannya itu sangat dalam detail satu persatu," terang Dony.
Sikap ini menunjukkan pragmatisme Danantara. Jika Waskita akhirnya harus keluar dari bursa demi menyelamatkan bisnis intinya, maka langkah tersebut akan diambil. Sebaliknya, jika fundamental perusahaan membaik dan tetap layak tercatat, maka status tersebut bisa dipertahankan.
Menurut Dony, kekhawatiran terbesar bukanlah hilangnya status perusahaan terbuka, melainkan potensi kerugian yang harus ditanggung investor jika fundamental perusahaan terus memburuk. Ia menilai, membiarkan saham yang kinerjanya buruk tetap diperdagangkan justru bisa menjadi bumerang bagi para pemegang saham.
"Buat saya yang paling penting itu dari fundamentalnya real. Kalau kita lakukan secara fundamental tidak baik tetap di bursa, juga akan kasihan juga pada investornya. Jadi yang paling penting itu adalah membereskan fundamental perusahaan. Masalah nanti dia akan tetap di bursa atau tidak, itu akan kita lihat bagian dari penyelesaian ini," tutur Dony.
Pernyataan ini menjadi sinyal kuat bahwa Danantara menempatkan kepentingan investor dan kesehatan jangka panjang perusahaan di atas gengsi status sebagai emiten. Langkah restrukturisasi yang sedang berjalan pun dirancang untuk memastikan Waskita tidak lagi menjadi beban negara dan mampu berdiri di atas kakinya sendiri.
Waskita Karya, yang selama ini dikenal sebagai salah satu kontraktor BUMN terbesar, memang tengah menghadapi tekanan finansial berat akibat beban utang dan proyek-proyek yang bermasalah. Suspensi saham yang berkepanjangan menjadi cermin betapa dalamnya masalah yang harus diurai. Kini, semua mata tertuju pada Danantara untuk melihat sejauh mana komitmen penyehatan tersebut dijalankan.
Situasi ini menjadi ujian bagi Danantara dalam menjalankan perannya sebagai super holding. Keberhasilan menyehatkan Waskita akan menjadi preseden penting bagi restrukturisasi BUMN lain yang bernasib serupa. Sebaliknya, kegagalan akan memicu pertanyaan besar tentang efektivitas pengawasan induk usaha terhadap anak perusahaannya.