JISDOR Bukan Kurs Jual-Beli di Bank, Ini Fungsi dan Cara Hitungnya

Penulis: Ragil  •  Senin, 24 Agustus 2026 | 18:04:31 WIB
JISDOR merupakan nilai referensi transaksi valuta asing antarbank yang diterbitkan Bank Indonesia setiap hari kerja.

MALUKU UTARA — Sejak pertama kali diterbitkan pada 20 Mei 2013, JISDOR berfungsi sebagai reference rate yang merepresentasikan kondisi pasar USD/IDR. Data yang digunakan berasal dari transaksi spot yang benar-benar terjadi dan dilaporkan melalui sistem pemantauan transaksi valuta asing milik Bank Indonesia.

Perbedaan mendasar antara JISDOR dan kurs di bank terletak pada sumber datanya. JISDOR menggunakan transaksi aktual antarbank, sementara kurs jual-beli di bank atau layanan keuangan ditetapkan masing-masing penyedia jasa dengan tambahan margin keuntungan.

Bagaimana JISDOR Dibentuk?

Proses pembentukan JISDOR dimulai dari transaksi spot USD/IDR yang terjadi di pasar valuta asing antarbank. Transaksi tersebut kemudian dikumpulkan dan diolah oleh Bank Indonesia untuk menghasilkan satu angka yang dianggap paling representatif pada hari itu.

Istilah "interbank" merujuk pada transaksi yang berlangsung antara bank dengan bank lainnya. Sementara itu, "spot" berarti pertukaran mata uang dengan penyelesaian dalam waktu singkat sesuai ketentuan pasar valuta asing. Kombinasi keduanya menghasilkan data yang mencerminkan aktivitas perdagangan riil, bukan sekadar harga penawaran.

Fungsi JISDOR bagi Pelaku Pasar

JISDOR menjadi acuan untuk melihat apakah rupiah sedang menguat atau melemah terhadap dolar AS. Perubahan angkanya dari satu hari kerja ke hari berikutnya kerap digunakan pelaku pasar untuk membaca arah pergerakan nilai tukar.

Sebagai contoh, apabila JISDOR berada di Rp17.700 per USD, angka tersebut menunjukkan bahwa secara referensi satu dolar AS bernilai Rp17.700. Ketika permintaan dolar meningkat dibandingkan rupiah, nilai USD/IDR akan bergerak naik. Sebaliknya, ketika tekanan terhadap dolar berkurang, angkanya turun.

Kurs referensi ini juga menjadi benchmark dalam berbagai aktivitas keuangan yang membutuhkan patokan USD/IDR. Namun, penggunaannya tidak berarti seluruh transaksi dolar dan rupiah harus dilakukan pada angka JISDOR yang sama.

Mengapa JISDOR Berbeda dari Kurs di Bank?

Bank dan penyedia layanan keuangan memiliki kewenangan untuk menetapkan kurs transaksi masing-masing. Harga yang terlihat ketika membeli atau menjual dolar di aplikasi perbankan bisa berbeda dari angka JISDOR pada hari yang sama.

Selisih tersebut muncul karena bank memasukkan margin keuntungan dan biaya operasional ke dalam kurs jual dan kurs beli. JISDOR justru tidak mengandung elemen tersebut karena murni mencerminkan transaksi antarbank.

Pasar valuta asing memiliki banyak transaksi dengan harga yang dapat berbeda dalam waktu bersamaan. Tanpa adanya referensi tunggal, sulit memperoleh satu angka yang cukup representatif untuk menggambarkan kondisi pasar secara keseluruhan. JISDOR hadir untuk mengisi kebutuhan tersebut.

Bagi masyarakat umum yang hendak menukar uang, memahami JISDOR membantu membedakan kurs referensi dengan kurs transaksi. Angka JISDOR memberikan gambaran kondisi fundamental nilai tukar, sementara kurs di bank mencerminkan harga yang berlaku untuk transaksi riil.

Reporter: Ragil
Sumber: indodax.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top