MALUKU UTARA — Kecemasan bukan hanya milik orang dewasa, anak-anak pun bisa mengalaminya sejak usia balita. Kenali 5 jenis gangguan kecemasan dan tanda-tandanya agar Bunda tidak salah menilai anak yang sedang gelisah atau tantrum.
Rasa takut dan cemas adalah bagian normal dari tumbuh kembang anak. Keduanya membantu si kecil belajar menghadapi situasi baru dan mencari cara mengatasinya sendiri.
Yang perlu diwaspadai adalah ketika rasa cemas itu bertahan lama, muncul berlebihan, atau justru membuat anak menghindari aktivitas sehari-hari. Kondisi seperti inilah yang perlu Bunda cermati lebih jauh.
Mengutip Cleveland Clinic, kecemasan pada anak baru dianggap gangguan jika rasa khawatir atau takut yang muncul sudah mengganggu kehidupannya selama lebih dari 6 bulan. Artinya, bukan sekadar rasa gugup sesaat sebelum ujian atau saat bertemu orang baru.
Anak dengan gangguan kecemasan biasanya menunjukkan perilaku menghindar yang lebih ekstrem. Reaksi emosionalnya juga lebih besar, misalnya menangis kencang atau tantrum berkepanjangan, dan berlangsung lebih lama dari yang seharusnya.
Mereka juga kerap mengeluh gejala fisik tanpa sebab jelas: sakit perut, sakit kepala, mual, muntah, sesak napas, hingga gangguan tidur.
Gangguan kecemasan pada anak tidak hanya satu jenis. Berikut bentuk-bentuk yang paling umum muncul di masa tumbuh kembang.
Kecemasan perpisahan adalah bagian normal dari perkembangan anak. Biasanya mulai muncul saat anak berusia 8–12 bulan, ketika ia mulai takut pada orang asing dan merasa tidak aman jauh dari orang tua.
Kondisi ini umumnya mereda saat anak masuk usia prasekolah. Namun pada gangguan kecemasan perpisahan, rasa khawatir itu bertahan lebih lama dan lebih ekstrem. Anak bisa menolak sekolah, tidak mau jauh dari rumah, bahkan enggan berpisah saat hendak tidur.
Rasa takut sebenarnya berfungsi melindungi anak dari bahaya. Wajar jika si kecil takut pada suara petir, badut, atau hewan tertentu.
Fobia spesifik berbeda karena rasa takutnya sangat kuat dan tidak sebanding dengan ancaman yang sebenarnya. Anak bisa panik berlebihan hanya karena melihat atau membayangkan hal yang ditakutinya.
Anak dengan kecemasan sosial merasa takut berlebihan terhadap penilaian atau penolakan orang lain. Ia mungkin menghindari berbicara di depan umum, tampil di depan kelas, atau sekadar mengobrol dengan teman di sekolah.
Dalam kasus yang lebih berat, anak bisa menarik diri sepenuhnya dari situasi sosial, bahkan dari lingkungan yang sebenarnya sudah ia kenal baik.
Gangguan kecemasan umum ditandai rasa khawatir berlebihan terhadap banyak hal dalam kehidupan sehari-hari. Anak seperti ini cenderung lebih sering mengkhawatirkan masa depan dibanding teman seusianya.
Topik kekhawatirannya bisa berganti-ganti dari waktu ke waktu. Namun hampir selalu ada satu hal yang membuatnya merasa cemas.
Anak dengan gangguan panik bisa mengalami episode takut dan cemas yang sangat kuat secara tiba-tiba. Serangan ini disertai gejala fisik seperti jantung berdebar, pusing, dan sulit bernapas.
Serangan panik umumnya mereda dalam hitungan menit hingga beberapa jam. Meski begitu, pengalaman ini bisa sangat menakutkan bagi anak dan orang tua yang menyaksikannya.
Dikutip dari Child Mind Institute, kecemasan termasuk masalah kesehatan mental yang cukup umum dialami anak dan remaja. Sayangnya, tanda-tandanya sering dianggap sekadar sifat pemalu atau manja.
Anak dengan kecemasan bisa merasakan kekhawatiran yang tidak sebanding dengan situasi nyata. Rasa itu tidak kunjung hilang dan mulai mengganggu aktivitas hariannya.
Perhatikan juga keluhan fisik yang ia sampaikan. Sakit kepala, sakit perut, berkeringat, atau jantung berdebar tanpa penyebab medis jelas bisa jadi sinyal kecemasan yang perlu ditindaklanjuti.
Bunda sebaiknya berkonsultasi dengan psikolog anak atau dokter tumbuh kembang jika rasa cemas anak sudah berlangsung lebih dari 6 bulan. Apalagi jika ia mulai menolak sekolah, menarik diri dari teman, atau mengalami keluhan fisik berulang tanpa sebab jelas.
Semakin cepat ditangani, semakin besar peluang anak belajar mengelola rasa cemasnya dengan cara yang sehat.
Mendampingi anak yang cemas memang butuh kesabaran ekstra. Tapi dengan mengenali tandanya lebih awal, Bunda bisa memberi dukungan yang tepat sebelum kondisinya berkembang lebih berat.