TERNATE — Pandangan ke arah Gunung Gamalama terhalang kabut asap pada Selasa (20/10/2026). Bukan hanya gunung yang jadi ikon kota itu, Pulau Halmahera pun tidak terlihat dari Ternate. Sementara Pulau Tidore dan Maitara tampak blur di balik lapisan asap.
Informasi resmi BMKG Ternate menyebut kabut asap di wilayah Maluku Utara tidak hanya bersumber dari karhutla di daerah itu sendiri. Arus udara juga membawa asap dari Papua dan Maluku.
Muhammad Bintiang, Kepala Bagian Teknis BMKG Ternate, menyampaikan hal itu melalui pesan di grup WhatsApp resmi instansinya. "Dampak kabut asap ini, bukan hanya Karhutlah di Maluku Utara saja, tetapi kita juga mendapat kiriman kabut asap dari Papua dan Maluku," kata Bintiang.
Menurut BMKG Ternate, beberapa daerah di Maluku Utara masih tertutup kabut asap pasca karhutla. Kondisi ini membuat jarak pandang warga yang beraktivitas di luar ruang menurun, terutama ke arah lanskap pulau di sekitar Ternate.
Karhutla paling parah di Maluku Utara terjadi di Kabupaten Pulau Taliabu. Api menghanguskan ribuan pohon cengkih milik warga. Kerugian materiel yang ditimbulkan tidak sedikit.
Cengkih merupakan komoditas andalan petani di Kepulauan Sula dan sekitarnya. Kebakaran yang melanda kebun warga langsung memangkas sumber penghasilan tahunan mereka, bukan sekadar merusak tanaman.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan resmi soal luas lahan yang terbakar di Pulau Taliabu maupun jumlah petani yang terdampak. Warga di Ternate dan sekitarnya diminta tetap waspada terhadap penurunan jarak pandang akibat kabut asap.