Standard Chartered Naikkan Pembiayaan ALVA Jadi USD20 Juta untuk Produksi Motor Listrik

Penulis: Yasir  •  Selasa, 20 Oktober 2026 | 14:33:31 WIB
Standard Chartered Indonesia menambah fasilitas pembiayaan untuk produsen motor listrik ALVA menjadi USD20 juta.

MALUKU UTARA — Standard Chartered Indonesia menambah fasilitas pembiayaan untuk PT Electra Mobilitas Indonesia, produsen motor listrik ALVA, dari sebelumnya menjadi USD20 juta atau sekitar Rp358,2 miliar. Fasilitas baru ini menyasar kebutuhan operasional dan pengembangan produk di tengah dorongan pemerintah mempercepat adopsi kendaraan listrik roda dua.

Penambahan plafon kredit diumumkan dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (20/10/2026). ALVA merupakan anak usaha PT Indika Energy Tbk yang memproduksi sepeda motor listrik di fasilitas manufaktur dalam negeri.

Dana segar itu disebut akan menutup belanja bahan baku dan komponen, bukan sekadar modal kerja harian. Bagi pemilik unit ALVA, kepastian pasokan komponen menjadi faktor yang menentukan kesinambungan layanan purnajual.

Fokus Pembiayaan: Operasional hingga Pengembangan Produk

Fasilitas USD20 juta ini menyasar tiga area: kegiatan operasional harian, kapabilitas manufaktur, dan pengembangan produk baru. Peningkatan plafon dari nilai sebelumnya memberi ALVA ruang pendanaan lebih lebar untuk menjaga ritme produksi.

CEO ALVA Purbaja Pantja menyebut dukungan pembiayaan membantu perusahaan menjaga kesinambungan pengadaan bahan baku dan komponen. "Dukungan ini membantu kami menjaga kesinambungan pengadaan bahan baku dan komponen, seiring penguatan kapabilitas manufaktur dan pengembangan produk di Indonesia," ujar Purbaja dalam pernyataan resmi.

Ia berharap kerja sama berlanjut mendukung pertumbuhan bisnis sekaligus memperkuat rantai pasok industri sepeda motor listrik domestik.

Alasan Bank: 145 Juta Motor Jadi Pasar Besar Elektrifikasi

CEO Standard Chartered Indonesia Donny Donosepoetro OBE menempatkan pembiayaan ini dalam kerangka transisi energi. Populasi sepeda motor di Indonesia sekitar 145 juta unit, angka yang menurutnya membuat elektrifikasi roda dua punya daya ungkit besar.

"Keberhasilan transisi ini tidak hanya ditentukan oleh semakin banyaknya kendaraan listrik di jalan. Kita juga perlu membangun ekosistem industri yang kuat, mulai dari kapasitas produksi dalam negeri, rantai pasok, hingga akses terhadap pembiayaan," kata Donny.

Standard Chartered menyebut peningkatan fasilitas ini juga memperkuat dukungan terhadap perjalanan transisi Indika Energy, induk usaha ALVA, yang mengembangkan bisnis di sektor kendaraan listrik.

Target Pembiayaan Berkelanjutan Rp300 Miliar Dolar Global

Sejak Januari 2021 hingga September 2025, Standard Chartered telah memobilisasi USD157 miliar pembiayaan berkelanjutan secara global. Angka itu bagian dari target USD300 miliar pada 2030.

Di Indonesia, bank memakai jaringan internasionalnya untuk membiayai inisiatif transisi energi dan industri rendah karbon. Sektor energi, transportasi, dan manufaktur menjadi sasaran utama.

Dampak ke Rantai Pasok Motor Listrik Lokal

Bagi konsumen, pembiayaan di sisi produsen tidak langsung mengubah harga jual. Efeknya lebih terasa pada ketersediaan unit, kesiapan stok komponen, dan kemampuan pabrikan merilis varian baru sesuai jadwal.

ALVA bersaing di segmen sepeda motor listrik bersama merek lain yang juga mengandalkan produksi lokal. Kepastian modal kerja menjadi pembeda dalam menjaga kapasitas produksi saat permintaan naik.

Standard Chartered dan ALVA belum mengungkap tenor maupun skema bunga fasilitas tersebut.

Reporter: Yasir
Sumber: infobanknews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top