MALUKU UTARA — Pertandingan ini bukan sekadar laga biasa. Bagi Maroko, ini adalah nostalgia manis sekaligus misi balas dendam. Pada Piala Dunia 1986 di tempat yang sama, Monterrey, Maroko menorehkan sejarah dengan lolos ke fase gugur setelah bermain imbang melawan Polandia dan Inggris. Pelatih Maroko, Mohamed Ouahbi, enggan larut dalam kenangan. "Lebih dari sekadar kembali ke tempat kami bermain, kami berharap bisa melangkah lebih jauh dari yang kami capai saat itu," ujarnya.
Cuaca Ekstrem dan Otot Jadi Penentu Kemenangan
Pertandingan pukul 19.00 waktu setempat diprediksi masih menyisakan suhu panas hingga 30 derajat Celsius. Waktu rehidrasi menjadi faktor krusial. Namun, bukan hanya cuaca yang diuji. Belanda datang dengan senjata baru bernama Brian Brobbey. Striker yang sempat dianggap sebagai "alat tumpul" di masa mudanya itu kini menjelma menjadi mesin gol, mencetak gol dari tiga tembakan pertamanya yang mengarah ke gawang di turnamen ini.
Ouahbi mengaku sudah memiliki resep khusus untuk meredam Brobbey. Ia ingat betul saat melatih tim U-17 Anderlecht dan berhadapan dengan Brobbey di ajang Future Cup. "Saya kenal dia sangat baik. Kami tidak kebobolan darinya saat itu," kata Ouahbi, memberikan suntikan percaya diri kepada lini belakang Maroko.
Gakpo Bermain dengan Beban Berat di Pundak
Di sisi Belanda, performa Cody Gakpo menjadi sorotan. Pemain sayap yang bersinar saat menghancurkan Swedia itu harus bermain dengan situasi emosional yang berat. Gakpo dan pasangannya baru saja kehilangan anak yang belum lahir. Pelatih Belanda, Ronald Koeman, memberikan kebebasan penuh kepada Gakpo untuk memutuskan masa tinggalnya di turnamen. "Tidak pernah ada momen di mana dia bilang 'Saya ingin pulang'. Dia siap bermain," ungkap Koeman.
Koneksi Emosional dan Ancaman dari Pemain Keturunan
Laga ini juga diwarnai ikatan unik antara kedua negara. Tiga pemain Maroko—Noussair Mazraoui, Sofyan Amrabat, dan Anass Salah-Eddine—lahir di Belanda. Ouahbi mengakui adanya "perasaan aneh" saat harus berhadapan dengan negara yang telah memberikan banyak hal kepada mereka. Namun, ia yakin faktor emosional tidak akan mengganggu performa timnya.
Maroko juga memiliki ancaman lain: Ismael Saibari. Gelandang serang yang akan bergabung dengan Bayern Munchen dari PSV Eindhoven itu sudah mencetak tiga gol di turnamen ini, termasuk satu gol saat menahan imbang Brasil. Duel antara kecepatan Saibari dan ketangguhan lini belakang Belanda diprediksi akan menjadi tontonan menarik di stadion yang dikelilingi pemandangan Gunung Cerro de la Silla.