HALMAHERA UTARA — Warga di sejumlah kabupaten/kota di Maluku Utara dan Gorontalo dilanda kepanikan singkat setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,2 terjadi pada Jumat pagi, 3 Juli. Pusat gempa berada di laut, sekitar 58 kilometer arah Barat Daya Pulau Doi, dengan kedalaman mencapai 100 kilometer.
Berdasarkan laporan BMKG, guncangan terkuat dirasakan di Kabupaten Halmahera Utara dengan skala intensitas III hingga IV MMI. Pada skala ini, getaran tidak hanya dirasakan oleh banyak orang di dalam rumah, tetapi juga cukup kuat untuk membuat gerabah pecah, jendela berderik, dan dinding berbunyi.
Getaran Terasa di Tujuh Wilayah
Guncangan tidak berhenti di Halmahera Utara. BMKG mencatat warga di empat kota/kabupaten lain di Maluku Utara turut merasakan getaran pada skala III MMI. Wilayah tersebut meliputi Ternate, Tidore, Sanana, dan Morotai.
Skala yang sama juga dilaporkan oleh masyarakat di tiga daerah di Provinsi Gorontalo. Warga di Kota Gorontalo, Kabupaten Gorontalo Utara, dan Bone Bolango merasakan guncangan pada skala intensitas II hingga III MMI.
Penyebab Gempa: Aktivitas Deformasi di Lempeng Laut Maluku
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan bahwa gempa ini termasuk kategori gempa bumi menengah. Penyebabnya adalah aktivitas deformasi batuan di dalam lempeng Laut Maluku.
“Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi ini memiliki mekanisme pergerakan geser naik (oblique thrust fault),” terang Wijayanto dalam keterangan resminya.
Meski getaran terasa cukup kuat dan luas, BMKG secara tegas menyatakan gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan mengenai kerusakan bangunan atau korban jiwa akibat guncangan tersebut.