MALUKU UTARA — Jakarta, Kompas.com — Dorongan pemerintah untuk membangun Motor Listrik Nasional (Molinas) menghadapi tembok besar bernama daya beli. Bukan kapasitas produksi yang dipertanyakan, melainkan apakah skema harga dan biaya operasionalnya sanggup bersaing dengan sepeda motor konvensional yang sudah mengakar di pasar Indonesia.
Pengamat transportasi Darmaningtyas menyebut kelompok pengguna sepeda motor memiliki profil ekonomi yang berbeda dengan pembeli mobil. Harga beli adalah gerbang pertama, dan setelah itu biaya perawatan serta nilai jual kembali menjadi penentu keputusan.
Biaya Sewa Baterai Rp 7 Juta: Penghalang Terbesar Adopsi
Darmaningtyas menyoroti salah satu model bisnis yang kerap ditawarkan produsen motor listrik: skema sewa baterai. Jika konsumen harus merogoh kocek hingga Rp 7 juta per tahun hanya untuk menyewa baterai, ia menilai calon pembeli akan berpikir ulang.
"Nah, kalau mereka tadi harus sewa baterai sampai Rp 7 juta, ya, mereka mikir-mikirlah," ujar Darmaningtyas saat dihubungi Kompas.com, Senin (17/8/2026).
"Mereka akan mikir dua kali, ngapain sampai segitu, mending beli motor yang BBM. Jadi, bukan soal harganya pantasnya berapa," sambungnya.
Jika diakumulasikan, biaya sewa baterai selama lima tahun bisa mencapai Rp 35 juta. Angka ini hampir setara dengan harga satu unit motor bensin entry-level baru. Dari sisi total cost of ownership, insentif untuk beralih ke listrik menjadi sangat tipis.
Perbandingan dengan Motor Bensin: Pasar Bekas dan Suku Cadang
Darmaningtyas menegaskan bahwa konsumen motor mencari kendaraan dengan biaya perawatan rendah dan pasar bekas yang likuid. Motor bensin unggul di dua aspek tersebut karena ekosistemnya sudah terbentuk puluhan tahun.
"Orang yang beli motor itu orang yang tidak mampu beli mobil, karena itu ketika mereka memutuskan jenis motor apa yang akan dibeli, pasti yang pertama harganya terjangkau," kata Darmaningtyas.
Ia menambahkan, "Ngapain memproduksi motor listrik yang, satu, tetap akan menyumbang kemacetan. Kedua, belum tentu terjangkau oleh kelompok pengguna motor."
Struktur Biaya Harus Menyentuh Kebutuhan Dasar Pengguna
Kehadiran Molinas seharusnya menjawab kebutuhan mobilitas, bukan sekadar menjadi proyek industrialisasi. Jika biaya kepemilikan masih tinggi, motor listrik nasional justru gagal menjangkau segmen pasar terbesarnya.
Pengembangan kendaraan ini perlu mengkaji ulang komponen biaya yang membebani konsumen, terutama skema kepemilikan baterai. Selama biaya tambahan berkala masih memberatkan, masyarakat akan tetap memilih motor bensin yang lebih familiar dan memiliki infrastruktur perbaikan di mana-mana.