MALUKU UTARA — "Kami mohon doanya, malam ini mungkin jam 22.00, KRI Gajah Mada akan meninggalkan Italia menuju Indonesia," ujar Ali saat mengunjungi Kraton Majapahit di Jakarta Timur, Senin (24/8/2026).
Proses Serah Terima dan Pergantian Bendera
Meski sudah meninggalkan Italia, kapal ini masih bernama ITS Garibaldi dan membawa bendera Italia. Pergantian nama menjadi KRI Gadjah Mada baru akan dilakukan setelah kapal tiba di Indonesia. "Namanya masih ITS Garibaldi, masih berbendera Italia. Tapi sesampainya di Indonesia akan berganti bendera menjadi KRI Gajah Mada," tegas Ali.
Sebelum diserahkan ke Indonesia, kapal induk ini menjalani upgrade besar-besaran di Taranto, Italia. Proses pengerjaan ulang tersebut memastikan seluruh sistem kapal dalam kondisi optimal sebelum menjadi bagian dari armada TNI AL.
Performa Mesin dan Jangkauan Jelajah 7.000 Mil Laut
Dari sisi penggerak, KRI Gadjah Mada mengandalkan konfigurasi COGAG (Combined Gas Turbine and Gas Turbine) yang dibagi dalam dua ruang mesin terpisah demi faktor keselamatan. Sistem ini memungkinkan kapal tetap beroperasi meski salah satu ruang mesin mengalami gangguan.
- 4 Turbin Gas General Electric/Avio LM2500: Menghasilkan daya total hingga 82.000 shp untuk memutar dua poros baling-baling, mampu membawa kapal melaju hingga kecepatan 30 knot.
- 6 Generator Mesin Diesel Grand Motori Trieste B230/12: Memasok kebutuhan listrik cadangan dan operasional seluruh sistem radar, navigasi, serta instrumen kapal melalui konsol terintegrasi SEPA 7614.
Dengan mesin tersebut, kapal ini memiliki jangkauan operasional sekitar 7.000 mil laut pada kecepatan ekonomis 20 knot. Kecepatan maksimumnya mencapai 30 knot atau setara 56 kilometer per jam.
Kapasitas Kru dan Pasukan Tempur
Sebagai kapal induk yang juga mewarisi karakteristik kapal penjelajah, KRI Gadjah Mada mampu menampung kru dalam jumlah besar. Kapal ini dirancang untuk membawa sekitar 600 kru inti kapal, 230 personel grup udara, dan sekitar 100 personel komando. Dalam kondisi tertentu, kapal ini juga dapat mengangkut hingga 600 pasukan komando tambahan.
Persenjataan: Rudal Aspide hingga Torpedo Anti Kapal Selam
Sistem pertahanan diri KRI Gadjah Mada terbilang sangat kuat. Kapal ini dilengkapi dengan berbagai persenjataan untuk menghadapi ancaman dari udara, permukaan, maupun bawah air.
- Pertahanan udara: Dua peluncur rudal delapan sel Selenia 'Albatros' yang menampung 48 rudal Aspide untuk menangkal ancaman udara jarak menengah.
- Anti-kapal permukaan: Awalnya dipasang 8 peluncur rudal anti-kapal OTOMAT MK-2 di buritan, tapi dilepas pada tahun 2003 untuk memperluas geladak penerbangan.
- Sistem pertahanan titik (CIWS): Tiga meriam ganda Breda 40mm/70 yang terintegrasi dengan sistem pertahanan Dardo untuk merontokkan rudal yang lolos dari pertahanan utama, dengan jangkauan tembak hingga 4 km terhadap sasaran udara.
- Sistem anti-kapal selam: Dua tabung peluncur torpedo tiga laras jenis ILAS-3 (kaliber 324mm) yang menggunakan torpedo ringan Mk 46 atau A-244.
Kemampuan STOVL dan Peran Strategis di Armada TNI AL
KRI Gadjah Mada dirancang dengan kemampuan lepas landas jarak pendek dan pendaratan vertikal (STOVL). Kapal yang mulai diluncurkan pada 4 Juni 1983 ini memang mengandalkan helikopter untuk misi serbu, karena fitur STOVL membatasi jenis pesawat bersayap tetap yang bisa dioperasikan.
Kehadiran kapal induk ini akan mengubah postur pertahanan maritim Indonesia secara signifikan. Dengan kemampuan jelajah hingga 7.000 mil laut, KRI Gadjah Mada mampu memperluas jangkauan operasi TNI AL hingga ke perairan internasional, memperkuat pengawasan jalur pelayaran, dan menjadi aset utama dalam operasi kemanusiaan serta penegakan kedaulatan di wilayah perbatasan.