MALUKU UTARA — PT Fortune Indonesia Tbk (FORU) tak lagi ingin dikenal sebagai perusahaan media. Emiten yang selama ini bergerak di bidang percetakan dan penerbitan itu kini mengincar bisnis pertambangan batu bara kokas (coking coal)—bahan baku utama industri baja. Ambisi itu dijalankan lewat aksi Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau rights issue senilai maksimal Rp 27,65 triliun.
Dalam prospektus yang dirilis perseroan, FORU akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 219,48 miliar saham baru. Jumlah itu setara 99,79% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah rights issue. Setiap pemegang 100 saham lama yang tercatat pada 14 September 2026 berhak memperoleh 47.177 HMETD, dengan harga pelaksanaan Rp 126 per saham.
Yang menarik, pemegang saham pengendali, IMR Asia Holding Pte Ltd, tidak akan menyetor uang tunai. Sebaliknya, IMR AH akan melakukan setoran modal nonkas (inbreng) berupa 10.780 saham Seri A PT Borneo Prima—setara 49% kepemilikan mereka di perusahaan tambang tersebut. Nilai penyertaan ini mencapai 168,58 miliar saham FORU.
Dari total dana rights issue, sekitar 76,81% atau Rp 21,24 triliun akan digunakan untuk mengakuisisi saham Borneo Prima melalui mekanisme inbreng. Sementara itu, sisa dana yang berasal dari pemegang saham publik—yang diperkirakan mencapai Rp 6,41 triliun—akan disalurkan sebagai pinjaman ke PT Borneo Prima.
Menurut manajemen FORU, dana pinjaman itu akan dipakai untuk membiayai modal kerja, mendukung aktivitas operasional, dan menunjang produksi tambang batu bara kokas. Setelah inbreng rampung, Borneo Prima resmi menjadi anak usaha FORU dan perusahaan akan bertransformasi menjadi induk usaha (holding company) yang fokus di pertambangan.
Manajemen FORU mengakui bahwa bisnis media dan percetakan yang selama ini menjadi tulang punggung pendapatan sudah tidak cukup prospektif. "Seiring berkembangnya zaman dan peluang bisnis yang ada, perseroan melihat potensi bisnis yang lebih produktif dan menjanjikan yaitu pada industri pertambangan batu bara kokas," tulis manajemen dalam prospektus yang dikutip Jumat (12/6).
Dengan masuknya bisnis tambang, FORU berharap bisa mendiversifikasi sumber pendapatan dan mengurangi ketergantungan pada sektor media. Perusahaan juga menargetkan perluasan pendapatan dari produksi dan penjualan batu bara kokas yang permintaannya tinggi dari industri baja.
Menariknya, meski bisnis berubah total, FORU menyatakan tidak akan mengubah susunan direksi dan dewan komisaris. Manajemen menilai jajaran pengurus saat ini sudah memiliki pengalaman di bidang perusahaan induk maupun aktivitas pertambangan batu bara.