MALUKU UTARA — Menurut Prof. Syamsir, transisi energi harus dibangun melalui pendekatan integratif yang mencakup setidaknya tujuh pilar utama: kebijakan, teknologi, investasi, keandalan jaringan listrik, sumber daya manusia (SDM), penerimaan publik, dan inovasi berkelanjutan. Tanpa penguatan di seluruh aspek ini, risiko kegagalan atau gangguan pasokan listrik nasional bisa mengancam aktivitas industri dan masyarakat.
Kebijakan Jangka Panjang Jadi Fondasi Utama
Pilar pertama yang disorot adalah kebijakan. Syamsir menilai pemerintah perlu menghadirkan regulasi yang jelas, konsisten, dan berjangka panjang. "Ini penting untuk memberikan kepastian bagi investor dan pelaku industri energi baru terbarukan," ujarnya, Kamis (28/5/2026).
Tanpa kepastian itu, investasi di sektor energi bersih bisa mandek. Padahal, modal besar diperlukan untuk membangun infrastruktur pembangkit dan jaringan pendukungnya.
Jaringan Listrik dan SDM: Dua Sisi Mata Uang
Pilar kedua adalah modernisasi jaringan listrik. Syamsir menjelaskan, penetrasi energi terbarukan dalam skala besar memerlukan sistem kelistrikan yang fleksibel dan andal. Sebab, sumber seperti surya dan angin bersifat intermiten—tidak bisa diandalkan 24 jam tanpa dukungan teknologi penyimpanan energi (baterai) dan penguatan transmisi nasional.
Di sisi lain, pengembangan SDM juga menjadi krusial. Tenaga kerja di sektor energi harus dipersiapkan melalui peningkatan kompetensi teknologi, digitalisasi sistem energi, dan penguasaan inovasi energi bersih. "Agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar teknologi energi, tetapi juga pemain utama dalam pengembangan teknologi energi bersih," tegas Syamsir.
Penerimaan Publik dan Riset: Elemen yang Kerap Terlupakan
Pilar yang kerap diabaikan adalah penerimaan publik dan inklusi sosial. Syamsir menilai transisi energi perlu dilakukan secara gradual, adaptif, dan terukur. Tujuannya untuk meminimalkan risiko terhadap stabilitas ekonomi dan keberlangsungan industri nasional. Masyarakat tidak boleh merasa dirugikan oleh kenaikan tarif listrik atau pemadaman akibat transisi yang terlalu cepat.
Terakhir, riset dan inovasi harus menjadi penggerak utama. Syamsir mendorong agar lembaga riset dan perguruan tinggi—seperti ITPLN—terlibat aktif menciptakan teknologi energi bersih buatan dalam negeri, bukan hanya menjadi pengguna produk impor.
Dengan pendekatan integratif ini, transisi energi diharapkan tidak hanya menekan emisi karbon, tetapi juga menjaga ketahanan energi dan pertumbuhan ekonomi nasional tetap berjalan seimbang.