Peringatan keras itu disampaikan langsung oleh CEO Xbox Asha Sharma dan Chief Content Officer Matt Booty dalam surel kepada seluruh karyawan, Selasa (17/6) waktu setempat. Isinya gamblang: margin akuntabilitas divisi Xbox hanya tersisa 3 persen di akhir tahun fiskal ini, turun dibanding tahun lalu. Lebih mencengangkan lagi, jika tidak termasuk akuisisi Activision Blizzard King, Microsoft telah menggelontorkan lebih dari 20 miliar dolar AS untuk investasi konten, platform, dan subsidi hardware—tapi pendapatan tahunan justru menyusut nyaris setengah miliar dolar.
Krisis Hardware dan “Helix” yang Belum Terjawab
Tim kepemimpinan Xbox secara terang-terangan mengakui bahwa Microsoft terkena dampak krisis komponen hardware lebih parah dibanding kompetitor. “Kami saat ini tidak bisa memproduksi konsol sebanyak yang pemain ingin beli,” tulis Sharma dan Booty. Kalimat itu menjadi pengakuan langka: posisi Xbox di meja negosiasi dengan pemasok memori dan penyimpanan sedang lemah karena penjualan konsol yang terus merosot.
Yang menarik, mereka menyebut komitmen terhadap “Helix”—nama kode yang belum pernah diumumkan secara resmi ke publik. “Kami butuh model bisnis dan kemitraan baru untuk hardware,” lanjut pesan tersebut, mengindikasikan bahwa Xbox mungkin sedang menyiapkan perubahan fundamental pada arsitektur konsol generasi depan, termasuk pendekatan baru terhadap penyimpanan dan memori.
Waralaba Kelas Dunia yang Kelaparan Anggaran
Salah satu pengakuan paling pahit datang dari portofolio gim mereka sendiri. Sharma dan Booty mengakui Xbox memiliki waralaba kelas dunia—sebut saja Halo, Gears of War, atau Forza—tapi pendanaannya tidak pernah cukup untuk bersaing dan menang. “Kami tidak mendanai mereka secara memadai,” tulis kedua eksekutif itu, sebuah pernyataan yang jarang keluar dari mulut penerbit gim sebesar Microsoft.
Dalam jangka pendek, tim kepemimpinan berjanji akan membangun ulang infrastruktur platform yang selama ini dinilai menghambat kecepatan gerak mereka. “Ke depan, kami akan mengembangkan dan membangun ulang stack kami, serta melihat kapabilitas di seluruh Xbox dan potensi M&A untuk menang di hardware, PC, mobile, dan streaming,” demikian bunyi surel tersebut.
PHK Juli dan Ancaman Penutupan Studio
Bloomberg, mengutip Jason Schreier, melaporkan bahwa Microsoft bisa mengumumkan pemotongan besar-besaran pada Juli—tepat di awal tahun fiskal baru perusahaan. Tak hanya tenaga kerja, anggaran pemasaran dan sejumlah area bisnis lain juga akan dipangkas secara signifikan. Sementara itu, Tom Warren dari The Verge menambahkan bahwa langkah ini bisa mencakup penutupan studio atau perubahan susunan studio di bawah bendera Xbox Game Studios.
Pesan internal ditutup dengan nada yang suram: “Kami tidak akan berhasil dengan menyembunyikan kebenaran pahit, juga tidak akan berhasil dengan melakukan hal yang sama dan berharap hasil yang berbeda.” Bagi penggemar Xbox di Indonesia, pertanyaan besarnya kini bukan lagi soal kapan gim eksklusif berikutnya rilis, melainkan studio mana yang akan selamat dari reset besar ini.