MALUKU UTARA — Perusahaan rintisan yang berbasis di Amerika Serikat ini mengembangkan teknologi yang memungkinkan pengguna menjalankan simulasi perilaku konsumen untuk keperluan pemasaran dan riset produk. Alih-alih merekrut responden sungguhan, klien cukup menjalankan ribuan agen AI yang berperilaku layaknya manusia dalam skenario tertentu.
Putaran Pendanaan dan Investor
Seri B dipimpin oleh Greenoaks dengan partisipasi dari Index Ventures, Hanabi, Bain Capital Ventures, A*, Factory, Definition, dan CVS Health Ventures. CVS, jaringan apotek dan kesehatan terbesar di AS, juga tercatat sebagai salah satu pelanggan utama Simile.
Index Ventures sebelumnya memimpin Seri A senilai 100 juta dolar AS pada September 2024, saat Simile baru keluar dari mode stealth.
Akar Teknologi dari Proyek 'Smallville'
Simile didirikan oleh Joon Sung Park, lulusan PhD Stanford. Disertasinya mencakup proyek bernama "Smallville", sebuah simulasi di mana agen AI menjalani kehidupan layaknya manusia — mulai dari rutinitas harian hingga mengadakan pesta. Proyek inilah yang menjadi fondasi teknologi Simile saat ini.
Meski ambisius — misi perusahaan disebut-sebut ingin "mensimulasikan seluruh delapan miliar manusia di bumi secara akurat dan jujur" — pendekatan ini dinilai praktis untuk menggantikan metode riset pasar tradisional yang memakan waktu dan biaya besar.
Mengapa Simulasi Manusia Dibutuhkan
Konsep simulasi pengguna untuk riset dianggap sebagai area yang menjanjikan. Dalam praktiknya, perusahaan cukup memberikan skenario produk atau kampanye iklan, lalu agen AI akan bereaksi sesuai dengan profil yang telah ditentukan. Hasilnya bisa dianalisis untuk memprediksi respons pasar tanpa harus melibatkan responden nyata.
Beberapa pengamat menyebut pendekatan ini mirip dengan vibe coding untuk purwarupa produk — cepat, murah, dan bisa diulang berkali-kali.
Kompetisi di Ruang AI Simulasi
Simile bukan satu-satunya pemain di ranah ini. Startup lain seperti Aaru juga berhasil mengumpulkan pendanaan Seri A pada Desember 2024 dengan valuasi "headline" 1 miliar dolar AS. Artinya, minat investor terhadap teknologi simulasi berbasis AI masih tinggi meski model bisnisnya masih perlu diuji dalam skala besar.
Pertanyaan besarnya: seberapa akurat agen AI bisa meniru perilaku manusia yang penuh emosi dan irasional? Jawabannya akan menentukan apakah teknologi ini sekadar tren atau benar-benar mengubah cara perusahaan melakukan riset pasar.