TERNATE — Gangguan distribusi air bersih dari Perumda Air Gale membuat warga di tiga kelurahan di Kota Ternate kelimpungan. Air yang tidak mengalir normal selama hampir sepekan terakhir memaksa warga mengeluarkan biaya ekstra untuk membeli air, sementara sebagian lainnya harus begadang hanya untuk menampung air yang keluar di tengah malam.
Di RT 06 Kelurahan Fitu, Kecamatan Ternate Selatan, pasokan air dilaporkan macet total selama hampir tujuh hari. Warga setempat, Nurfadila, mengatakan kondisi ini membuat seluruh aktivitas rumah tangga menjadi terganggu.
"Sudah hampir seminggu air tidak jalan. Kami sangat kesulitan karena semua aktivitas membutuhkan air. Terpaksa beli air untuk kebutuhan sehari-hari, padahal itu menambah pengeluaran keluarga," ujarnya kepada media, Senin (3/8/2026).
Bukan Kali Pertama, Warga Fitu Minta Kejelasan dari Perumda
Nurfadila menjelaskan, gangguan distribusi ini sebenarnya bukan hal baru. Namun, durasi matinya air kali ini jauh lebih lama dibanding kejadian-kejadian sebelumnya. Ia pun mendesak pihak Perumda Air Gale untuk tidak hanya diam dan memberikan informasi yang jelas kepada pelanggan.
"Kalau memang ada gangguan, setidaknya sampaikan kepada masyarakat supaya kami tahu penyebabnya dan kapan air akan kembali normal," katanya.
Dua Hari Tak Mengalir, Warga Maliaro Harus Begadang
Kondisi serupa dialami warga RT 10/RW 03 Kelurahan Maliaro, Kecamatan Ternate Tengah. Yunita, seorang warga, mengungkapkan bahwa dalam beberapa hari terakhir air sempat tidak mengalir sama sekali selama dua hari berturut-turut. Ketika kembali mengalir, durasinya sangat singkat.
"Sekali mengalir hanya satu jam dan itu pun saat tengah malam, sehingga kami harus begadang untuk menampung air," ungkap Yunita.
Yunita menyoroti pelayanan yang ia terima tidak sebanding dengan kewajibannya. Ia mengaku rutin membayar tagihan air setiap bulan tanpa tunggakan, namun pasokan yang diterima justru kian memburuk dalam beberapa bulan terakhir.
"Selama bertahun-tahun pelayanan air bersih tidak maksimal. Hanya sekitar dua jam mengalir dan itu pun tengah malam," tuturnya.
Ada Ketimpangan Distribusi di Lingkungan yang Sama
Hal yang paling mengganjal bagi warga Maliaro adalah adanya perbedaan pasokan air di lingkungan tempat tinggal mereka. Yunita menyebut, sebagian rumah di RT yang sama justru mendapatkan air mengalir setiap hari tanpa kendala, sementara rumah lainnya kerap tidak mendapat aliran air sama sekali.
"Air di sebagian rumah warga justru lancar. Air mereka mengalir terus setiap hari tanpa ada kendala," ujarnya.
Menurut Yunita, perbedaan ini diduga karena jaringan perpipaan di RT 10 tidak berada dalam satu jalur. Ia menilai sistem distribusi yang ada saat ini tidak adil dan membutuhkan evaluasi menyeluruh agar seluruh pelanggan mendapat pelayanan yang sama.
Warga Tanah Tinggi Barat Terpaksa Cari Sumber Air Alternatif
Keluhan juga datang dari Lingkungan Jerbus, Kelurahan Tanah Tinggi Barat. Distribusi air yang tidak normal dalam beberapa hari terakhir membuat warga harus menghemat penggunaan air. Sebagian memilih membeli air, sementara lainnya mencari sumber air alternatif untuk kebutuhan harian.
Warga berharap Perumda Air Gale segera melakukan perbaikan teknis dan memberikan penjelasan resmi terkait penyebab gangguan serta estimasi waktu normalisasi layanan. Tanpa kejelasan tersebut, warga khawatir krisis air bersih akan terus berulang setiap musim kemarau tiba.