Pencarian

Legasi Almarhum Al Yasin Ali dan Burhan Abdurahman: Dua Kepala Daerah Maluku Utara yang Berpulang di Rantau dan Terlupakan

Minggu, 16 Agustus 2026 • 19:26:31 WIB
Legasi Almarhum Al Yasin Ali dan Burhan Abdurahman: Dua Kepala Daerah Maluku Utara yang Berpulang di Rantau dan Terlupakan
Almarhum Al Yasin Ali dan Burhan Abdurahman dikenang sebagai kepala daerah dua periode yang berpulang di perantauan.

Mirisnya Nasib Dua Kepala Daerah

Al Yasin Ali dan Burhan Abdurahman adalah dua nama besar yang pernah memimpin di Maluku Utara. Keduanya sama-sama menjabat kepala daerah dua periode, punya visi pembangunan yang kuat, dan meninggalkan jejak kepemimpinan yang dalam bagi warganya. Namun, ada satu kesamaan yang menyedihkan: keduanya berpulang di tanah rantau dan merasa "dilupakan" oleh daerah yang pernah mereka bangun.

Anwar Husen, pemerhati sosial sekaligus Dewan Pakar KAHMI Maluku Utara, merasa beruntung pernah terlibat dalam penulisan buku obituari untuk Burhan Abdurahman. Menurutnya, pengalaman itu membuatnya bisa melihat secara jernih kemiripan nasib dua tokoh tersebut.

"Secara sangat kebetulan, Al Yasin Ali dan Burhan Abdurahman, dua sosok hebat yang memiliki kisah mirip. Dan mungkin saja, ini kisah pilu teramat langka," tulis Anwar dalam analisisnya yang dikutip dari tandaseru.com.

Keberanian Memindahkan Ibu Kota ke "Belantara" Weda

Publik Maluku Utara, bahkan Indonesia, mungkin masih ingat keberanian Al Yasin Ali saat memindahkan pusat pemerintahan Halmahera Tengah dari kota ke Weda. Saat itu, Weda hanyalah sebuah ibukota kecamatan terpencil yang jauh dari gemerlap fasilitas kota.

Keputusan berani itu kini dikenang sebagai salah satu warisan terbesarnya. Memori tentang perpindahan tersebut masih terpatri kuat di benak para ASN dan warga Halmahera Tengah hingga hari ini.

Di era pemilihan langsung pertama tahun 2005, Al Yasin Ali berada di deretan tokoh kredibel dan bervisi besar. Ia sejajar dengan nama-nama seperti Hein Namotemo di Halmahera Utara, Muhammad Kasuba di Halmahera Selatan, Achmad Mahifa di Tidore, hingga Burhan Abdurahman dan Abdul Gani Kasuba.

Generasi Pemimpin yang Kini "Hilang Arah"

Anwar menyayangkan fenomena di mana Maluku Utara seolah kehilangan arah dalam menghargai jasa para pendahulunya. Ia menilai ada kesenjangan antara cerita kejayaan masa lalu sebagai negeri para raja dengan realitas hari ini yang mudah melupakan jasa.

Nilai-nilai Fagogoru yang menjadi sistem nilai masyarakat, serta pengakuan terhadap pahlawan nasional seperti Salahuddin bin Talabuddin, serasa tidak membekas. Padahal, kisah kebesaran jiwa seperti yang ditunjukkan Soekarno dan Buya Hamka seharusnya menjadi pelajaran berharga.

"Di setiap berpulangnya deretan tokoh-tokoh hebat Maluku Utara dalam pandangan saya, selalu ada jejak legasinya di esai-esai obituari pendek saya," ungkap Anwar.

Ia berharap publik Maluku Utara bisa kembali memaknai kisah kepahlawanan dan heroisme, terutama di bulan kemerdekaan ini. Bukan justru melupakan mereka yang pernah berjasa besar membangun daerah.

Follow halmahera24.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: tandaseru.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks