HALMAHERA UTARA — PT Nusa Halmahera Minerals (NHM) tengah menggencarkan efisiensi pemakaian air baku di Tambang Emas Gosowong. Melalui proyek DST Water Recovery & Recycling Project, perusahaan menargetkan pengurangan penggunaan air sungai hingga 30 persen dari total kebutuhan harian.
Manajemen mencatat kebutuhan air untuk proses produksi di Gosowong mencapai 5.400 meter kubik per hari. Dengan sistem daur ulang, NHM membidik efisiensi sebesar 1.680 hingga 1.920 meter kubik per hari.
Fokus Awal pada Pengurangan Air Baku di Mesin Penggiling
Tahap pertama penerapan proyek ini difokuskan pada pengurangan pemakaian Raw Water Mill Process. Air hasil olahan dari fasilitas DST (Dry Stack Tailings) akan dialirkan ke kolam penjernihan terlebih dahulu sebelum digunakan untuk mesin penggiling utama.
Assistant Superintendent – DST & Water Management NHM, Yoga Mei Rizal, menegaskan penggunaan air dilakukan berdasarkan kebutuhan dan tingkat kualitas masing-masing proses. “Prinsip yang kami terapkan adalah menggunakan air sesuai dengan kebutuhan dan tingkat kebersihannya masing-masing,” kata Yoga.
Untuk proses yang membutuhkan tingkat kejernihan lebih tinggi, seperti kebutuhan domestik di area camp dan kantor serta proses Elution (Gold Recovery), NHM tetap mempertahankan penggunaan air sungai karena memerlukan kualitas air sesuai standar operasional.
Mengapa Proyek Daur Ulang Air Ini Diperlukan?
Pengelolaan air menjadi isu krusial bagi keberlangsungan operasional tambang di wilayah dengan ketergantungan tinggi pada sumber daya air. General Manager Geology Resources & Support NHM, Denny Lesmana, menyebut air sebagai aset terpenting dalam operasional pertambangan.
“Air merupakan salah satu aset paling penting bagi keberlangsungan operasional tambang, terutama di wilayah seperti Halmahera Utara,” ujarnya.
Selain meningkatkan efisiensi, proyek ini juga diarahkan untuk mendukung konservasi lingkungan. Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen NHM dalam mendukung capaian program lingkungan PROPER Hijau.
Tantangan Teknis di Lapangan
Penerapan sistem daur ulang air ini tidak tanpa hambatan. NHM menghadapi sejumlah tantangan teknis, mulai dari variasi elevasi permukaan tanah, panjang jalur penyaluran, hingga menjaga kualitas air hasil olahan agar tetap stabil.
Perusahaan juga harus memastikan kapasitas penyimpanan mencukupi serta menjaga keandalan sistem agar tidak mengganggu aktivitas produksi. Infrastruktur pendukung seperti pipeline, valve, dan fitting tengah disiapkan untuk mendukung optimalisasi di tahap berikutnya.
Air hasil olahan dari DST, Polishing Pond, dan RSPK akan dimanfaatkan dalam satu sistem terpadu. NHM menempatkan DST bukan sekadar fasilitas pengeringan limbah tambang, melainkan bagian dari sistem pengelolaan air terpadu untuk operasional yang lebih efisien dan berkelanjutan.