Pencarian

26 Ibu di Halmahera Tengah Ikut Lomba Fakawel/Vauf, Desa Gemia Siapkan Agenda Tahunan Wisata Mancing

Jumat, 16 Oktober 2026 • 17:01:01 WIB
26 Ibu di Halmahera Tengah Ikut Lomba Fakawel/Vauf, Desa Gemia Siapkan Agenda Tahunan Wisata Mancing
Peserta lomba fakawel/vauf dari empat desa berkumpul sejak pagi di Desa Gemia, Halmahera Tengah.

HALMAHERA TENGAH — Peserta berasal dari Desa Blifitu, Woyobibil, Gemia, dan Santosa. Mereka berkumpul sejak pagi untuk mengikuti lomba yang digelar Pemerintah Desa Gemia bersama Yayasan Studi Etnologi Masyarakat Nelayan Kecil (SEMANK) Maluku Utara.

Rahima Kadir (60), salah satu peserta, bersama tiga rekannya berhasil mendapatkan puluhan ekor ikan karang. Hasil itu mengantarkan mereka keluar sebagai juara. Warga umum turut hadir menyaksikan aktivitas yang biasa dilakukan para mama pesisir tersebut.

Fakawel/Vauf, Tradisi Mancing yang Ramah Lingkungan

Fakawel atau vauf adalah praktik menangkap ikan turun-temurun oleh perempuan pesisir Halmahera Tengah. Cara ini dinilai sederhana, ramah lingkungan, dan mendukung keberlanjutan sumber daya perairan.

“Budaya Fakawel ini cara dapat ikan yang sederhana, ramah lingkungan, serta mendukung keberlanjutan sumberdaya perairan,” ujar pendiri SEMANK Mufti Murhum dalam acara tersebut.

Menurut Mufti, praktik ini lahir dari warga sendiri sehingga perlu dilestarikan. Salah satu caranya lewat lomba agar masyarakat merasa penting dan terus menjaga laut mereka.

“Kegiatan semacam ini hanya pemantik. Baik kepada masyarakat maupun pemerintah desa dan kabupaten. Tujuannya diperhatikan dan dilestarikan. Bisa menjadi potensi wisata yang menarik,” tutup Mufti.

Rahima: Ikan Hasil Lomba Jadi Milik Peserta

Rahima mengaku senang dan bersemangat mengikuti lomba. Selain sesuai hobinya, ikan yang didapat menjadi milik peserta.

“Saya senang dan bersemangat karena lomba ini. Selain menyenangkan karena sudah jadi hobi, juga ikannya menjadi milik kita,” cerita Rahima.

Ia menyebut vauf sudah mentradisi dan dilakukan setiap saat. Lomba seperti ini dinilai memberi perhatian lebih dari masyarakat untuk menjaga dan melindungi tempat ikan di sekitar pesisir desa.

Bagi para mama yang masih rutin melakukan fakawel, lokasi dengan ikan banyak umumnya sudah diketahui. Karena itu wilayah tersebut perlu dijaga agar tidak dirusak. Rahima menyebut praktik destruktif di laut sekitar Desa Gemia sudah jarang terjadi, namun masih ada kekhawatiran dilakukan orang dari luar desa.

Desa Gemia Godok Perdes Perlindungan Penyu

Desa Gemia berpenduduk 1.488 jiwa dengan 346 kepala keluarga. Luas laut desa mencapai 6,10 km² dan menghadap Samudera Pasifik. Di bagian tenggara terdapat Pulau Liwo, Pulau Sayafi, dan Pulau Jiew yang masuk kawasan konservasi perairan.

Warga setempat juga mendorong konservasi biota laut dilindungi seperti penyu. Upaya itu melibatkan anak muda yang membentuk komunitas konservasi. Pemerintah desa sedang mendorong Peraturan Desa (Perdes) khusus untuk melindungi penyu dari perburuan dan konsumsi telurnya.

“Proses draft peraturan desanya (Perdes) sedang digodok dan sudah dibahas dalam Musyawarah Desa (Musdes),” jelas Kepala Desa Gemia Wahyudin Majid.

Agenda Tahunan Dimulai dari Tingkat Kabupaten

Wahyudin menilai tradisi fakawel/vauf punya potensi besar sebagai daya tarik pariwisata. Pemerintah desa akan menetapkan lomba ini sebagai agenda tahunan.

“Vakawel ini kita akan tetapkan menjadi agenda tahunan untuk pariwisata. Kita mulai untuk tingkat kabupaten dulu,” kata Wahyudin.

Agenda tersebut nantinya melibatkan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Halmahera Tengah dan Dinas Pariwisata. Pelibatan itu terutama untuk mendorong instansi terkait menyediakan fasilitas yang dibutuhkan dalam pengembangan wisata di desa ini.

Wahyudin menyebut fakawel/vauf sebagai model penangkapan ikan yang menjaga keberlanjutan sumber daya ikan. Di desanya, aktivitas bom dan potas sudah tidak ada lagi. Pemerintah desa memperketat pengawasan terhadap upaya destruktif semacam itu.

Jika menjadi agenda pariwisata, masyarakat diyakini akan melindungi wilayah laut mereka dari berbagai aktivitas destruktif secara sukarela. Lomba juga mendorong keterlibatan generasi muda dalam pelestarian budaya pesisir.

Follow halmahera24.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: kabarpulau.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks