MALUKU UTARA — Kementerian Pemuda dan Olahraga memastikan bonus atlet dan pelatih peraih medali Asian Games serta Asian Para Games 2026 senilai total Rp158,3 miliar telah ditransfer ke rekening penerima sejak 28 Oktober, sebelum acara penyerahan di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (29/10). Pencairan lebih awal itu dikonfirmasi Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir setelah Presiden Prabowo Subianto menyerahkan penghargaan kepada para atlet. Penerima tak perlu lagi menunggu seremoni untuk memastikan dananya masuk.
"Jadi, Pak Menkeu langsung mentransfer tadi pagi dan kemarin," kata Erick di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.
Proses pencairan telah diperiksa sejumlah pimpinan cabang olahraga, antara lain panjat tebing, angkat besi, dan bulu tangkis. Erick juga menyebut Rosan Roeslani ikut mengecek proses tersebut.
Rincian Alokasi Rp158,3 Miliar
Dari total anggaran Rp158,3 miliar, pemerintah mengalokasikan Rp97,2 miliar untuk atlet dan pelatih Asian Para Games. Sisanya, Rp61,1 miliar, diperuntukkan bagi kontingen Asian Games.
Alokasi untuk Asian Para Games lebih besar Rp36,1 miliar dibandingkan Asian Games. Penghargaan diberikan kepada atlet peraih medali emas, perak, dan perunggu, serta para pelatih yang mendampingi mereka.
Siapa yang Berhak Menerima
Penerima bonus adalah atlet yang meraih medali emas, perak, atau perunggu pada Asian Games dan Asian Para Games 2026. Pelatih yang mendampingi atlet tersebut juga masuk daftar penerima.
Pemerintah tidak menyebut mekanisme pendaftaran mandiri dalam program ini. Dana disalurkan langsung ke rekening penerima yang telah ditetapkan, bukan melalui pengajuan individual.
Pembekalan Literasi Keuangan untuk Atlet
Selain bonus, pemerintah memberikan pembekalan pengelolaan keuangan kepada para atlet. Langkah itu diambil agar uang penghargaan tidak habis begitu saja dan bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan jangka panjang.
"Dan ini bagian bagaimana tadi pagi alhamdulillah kami juga membangun financial literacy kepada para atlet untuk tadi, ini ditabung buat masa depan mereka," ujar Erick.
Materi literasi keuangan mencakup cara mengelola uang, menabung, dan merencanakan kebutuhan pada masa mendatang. Erick berharap penghargaan ini ikut memperbaiki pandangan bahwa profesi atlet tidak menjanjikan kesejahteraan setelah masa bertanding berakhir.
Bukan Bansos, tapi Hak Atlet Berprestasi
Bonus ini berbeda dari bantuan sosial reguler seperti PKH atau BLT yang menyasar keluarga miskin. Sasaran program adalah atlet dan pelatih berprestasi pada ajang multievent internasional, dengan besaran mengikuti capaian medali.
Karena dana sudah ditransfer langsung, penerima tidak perlu datang ke kantor pos atau bank penyalur untuk mencairkan. Tidak ada biaya administrasi yang disebut dalam penyaluran ini.
Masyarakat yang ingin memastikan informasi resmi seputar penghargaan atlet dapat memantau kanal Kementerian Pemuda dan Olahraga. Waspadai pihak yang mengaku sebagai calo atau perantara pencairan bonus dengan meminta imbalan. Penyaluran resmi tidak memungut biaya apa pun dari penerima.