HALMAHERA BARAT — Nelayan dan warga pesisir di Halmahera Barat kini tak lagi harus mengikuti dua pelatihan kebencanaan secara terpisah. Pemerintah Provinsi Maluku Utara menggabungkan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN) dan Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami (SLG) dalam satu kegiatan yang digelar di Aula Bidadari Kantor Bupati Halmahera Barat, Selasa (28/7/2026).
Mengapa Dua Program Digabung Jadi Satu?
Fachrudin Tuguboya, Staf Ahli Gubernur Maluku Utara Bidang Hukum dan Pemerintahan, menyebut penggabungan ini bukan sekadar efisiensi agenda. “Yang menjadi kata kunci adalah efektif dan berdampak lebih luas,” ujarnya saat mewakili Gubernur Maluku Utara membuka kegiatan tersebut.
Selama ini, SLCN dan SLG kerap berjalan sendiri-sendiri. Padahal, nelayan yang membutuhkan informasi cuaca juga tinggal di wilayah rawan gempa dan tsunami. Dengan satu forum, peserta mendapat pemahaman utuh: dari membaca kondisi laut hingga langkah evakuasi saat gempa mengguncang.
Gunung Berapi dan Laut: Dua Sisi Mata Uang Kehidupan
Fachrudin mengingatkan bahwa kondisi geografis Maluku Utara—dikelilingi laut dan memiliki banyak gunung api—menuntut kewaspadaan ganda. “Laut adalah tempat kita mencari rezeki, laut adalah jalan kita dalam bersilaturahmi, tetapi di laut juga ada tantangan,” katanya.
Kesuburan tanah Halmahera, lanjutnya, tak lepas dari aktivitas vulkanik. Namun, di balik berkah itu tersimpan potensi ancaman yang harus diwaspadai setiap hari.
Kearifan Lokal Sahu: Membaca Ombak dari Gunung Jailolo
Fachrudin mencontohkan pengetahuan tradisional yang masih relevan hingga kini. Sejak kecil, ia mendapat ajaran dari orang tua dan leluhur bahwa Gunung Jailolo bisa menjadi penanda kondisi laut. “Kalau Gunung Jailolo ujungnya clear, tidak ada awan, berarti tidak ada ombak. Tapi begitu tertutup awan, pasti ada ombak,” ungkapnya.
Pengetahuan semacam ini, menurut Fachrudin, tidak boleh tergerus teknologi modern. Justru harus dikolaborasikan dengan informasi ilmiah agar sistem mitigasi bencana semakin kokoh.
Kesiapsiagaan Bukan Tugas Pemerintah Semata
Melalui SLCN dan SLG, Fachrudin berharap masyarakat tidak hanya paham membaca informasi cuaca dan mengenali potensi bahaya di laut, tetapi juga tahu langkah tepat saat gempa dan tsunami terjadi. Ia menekankan bahwa kesiapsiagaan adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah atau lembaga terkait.
Dengan perpaduan antara ilmu pengetahuan, teknologi, dan kearifan lokal, Maluku Utara diharapkan mampu membangun masyarakat yang lebih tangguh menghadapi berbagai potensi bencana.