TERNATE — Operasi transplantasi kornea tak lagi harus dirujuk ke Jawa. RSUD Chasan Boesoirie (CB) Ternate resmi menjadi rumah sakit pertama di Indonesia Timur yang mampu melakukan tindakan medis tersebut, menandai lompatan besar dalam pemerataan layanan kesehatan mata di Maluku Utara.
Bakti sosial bertema "Melihat adalah Anugerah" itu dibuka langsung Wakil Gubernur Maluku Utara, H. Sarbin Sehe. Program ini merupakan kolaborasi Pemerintah Provinsi Maluku Utara dengan Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA), RSUP dr. Sardjito Kementerian Kesehatan, PT Erela, Duke GO, Departemen Ilmu Kesehatan Mata FKKMK UGM, serta Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami).
18 Pasien Cangkok Kornea dan 100 Operasi Katarak
Dalam gelaran perdana ini, total 118 pasien mendapatkan layanan operasi mata. Rinciannya, 18 pasien menjalani prosedur transplantasi kornea dan 100 pasien lainnya dijadwalkan menerima operasi katarak secara gratis.
Selama ini, tindakan transplantasi kornea hanya tersedia di sejumlah rumah sakit rujukan besar di Pulau Jawa. Hadirnya layanan ini di Ternate memangkas jarak dan biaya yang selama ini menjadi beban pasien dari Maluku Utara.
Wagub Sarbin: Langkah Besar bagi Maluku Utara
Sarbin Sehe menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada tim dokter spesialis UGM, PT Erela, dan seluruh pihak yang berkontribusi. Menurutnya, kehadiran teknologi medis ini menjadi bukti nyata kolaborasi dalam memperluas akses layanan kesehatan berkualitas di daerah.
"Atas nama Pemerintah Provinsi dan masyarakat Maluku Utara, kami menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada UGM, PT Erela, dan seluruh pihak yang telah berkontribusi menghadirkan program ini. Ini merupakan langkah besar bagi pelayanan kesehatan di Maluku Utara," ujar Sarbin dalam sambutannya.
Wagub juga menginstruksikan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Maluku Utara untuk memberikan pendampingan maksimal agar seluruh rangkaian pelayanan medis berjalan lancar dan memberi hasil terbaik bagi pasien. Ia berharap kegiatan ini menjadi awal pengembangan layanan transplantasi kornea secara berkelanjutan di daerah.
Mengembalikan Kualitas Hidup Pasien
Direktur PT Erela, Lily Radite Handojo, menegaskan keterlibatan perusahaannya bukan sekadar program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Menurutnya, operasi ini adalah wujud kepedulian bersama yang didukung kemajuan teknologi medis dan keahlian para dokter.
"Kami percaya melihat adalah anugerah yang sering kali baru terasa maknanya saat fungsi itu hilang. Ketika seseorang kehilangan penglihatan, kualitas hidupnya menurun drastis. Melalui operasi katarak dan transplantasi kornea ini, kita bersama-sama mengembalikan kualitas hidup mereka," kata Lily.
Ia berharap kolaborasi serupa dapat terus berlanjut sehingga semakin banyak masyarakat memperoleh akses layanan kesehatan mata berkualitas. Program ini dinilai menjadi langkah nyata menekan angka kebutaan akibat kerusakan kornea di Indonesia, khususnya di Maluku Utara.
Target RSUD CB Jadi Pusat Rujukan Timur Indonesia
Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Departemen Ilmu Kesehatan Mata FKKMK UGM, Dr. dr. Muhammad Bayu Sasongko, M.Si., Sp.M(K)., Ph.D., bersama tim dokter spesialis dan guru besar UGM. Hadir pula anggota DPD RI, Kepala Dinas Kesehatan Maluku Utara, serta Ketua KAGAMA Maluku Utara.
Direktur RSUD Chasan Boesoirie, dr. Rosita Alkatiri, bersama jajarannya diminta terus meningkatkan mutu pelayanan. Sarbin menekankan agar rumah sakit milik Pemprov Maluku Utara itu semakin dipercaya sebagai pusat rujukan kesehatan di kawasan timur Indonesia.