MALUKU UTARA — Ribuan mahasiswa baru itu diajak merefleksikan lima pertanyaan mendasar selama orientasi: siapa diri mereka, apa yang salah dengan dunia, apa jawabannya, mengapa mereka ada, dan apa yang akan dilakukan dengan hidup mereka. Proses ini menjadi fondasi bagi UPH untuk membedakan diri dari pendekatan pendidikan konvensional yang berfokus pada output karier semata.
Pergeseran Paradigma: dari Pengejaran Karier ke Panggilan Hidup
Dr. (H.C.) James T. Riady, Founder and Trustee Chair UPH, menegaskan pihaknya membangun generasi muda untuk diperlengkapi, bukan dibungkam. "Bukan untuk didikte tentang apa yang harus dipikirkan, melainkan untuk belajar bagaimana cara berpikir," ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima Sabtu (15/8).
Pernyataan ini selaras dengan komitmen Rektor UPH, Dr. (Hon.) Jonathan L. Parapak, M.Eng.Sc., yang menyatakan mahasiswa diperlengkapi bukan hanya untuk sebuah karier, melainkan untuk sebuah panggilan. "Di UPH, iman dan pembelajaran menyatu, keunggulan dikejar dengan kerendahan hati, dan pengetahuan digunakan untuk melayani sesama," tambahnya.
Lima Pertanyaan Refleksi yang Menjadi Kurikulum Tersembunyi
Kerangka "Who am I?" hingga "What will I do with my life?" sengaja dirancang untuk menjembatani kesenjangan antara kompetensi teknis dan kecerdasan emosional. UPH meyakini lulusan yang hanya unggul secara akademik tanpa kepekaan sosial akan kesulitan menghadapi dinamika masyarakat yang berubah cepat.
Dr. Stephanie Riady, B.A., M.Ed., President of UPH, menekankan pendidikan adalah proses menjadi diri sendiri sebagaimana diciptakan. "Serta menggunakan apa yang telah kita pelajari untuk mengasihi Tuhan, melayani sesama, dan mentransformasi masyarakat," tuturnya.
Wadah Implementasi di Luar Kelas: Mentoring hingga Pengabdian Masyarakat
Komitmen tersebut diwujudkan lewat program Mentoring, Leadership Journey, dan Service Learning Community (SLC). Mahasiswa juga diarahkan aktif dalam organisasi kemahasiswaan dan kegiatan sosial yang menjadi laboratorium kepemimpinan sebelum terjun ke dunia profesional.
Bagi UPH, masa kuliah adalah fase eksplorasi minat yang mungkin belum pernah ditemukan sebelumnya. Aktivitas non-akademik ini dirancang untuk membangun relasi, mengasah keterampilan interpersonal, dan membentuk karakter yang utuh—baik secara intelektual, spiritual, emosional, maupun sosial.
Melalui festival ini, UPH berharap mahasiswa keluar dengan pemahaman diri yang lebih mendalam dan kejelasan tujuan hidup. Target akhirnya bukan sekadar lulus dengan gelar, tetapi menjadi pribadi yang mampu membawa perubahan nyata bagi lingkungan dan masyarakat luas.