JAKARTA — Kementerian Pekerjaan Umum (PU) bergerak cepat menangani dampak gempa bumi berkekuatan 7,7 SR yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026 lalu. Langkah prioritas difokuskan pada pemeriksaan dan perbaikan sarana air minum agar warga tetap mendapat pasokan air bersih selama masa tanggap darurat.
Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan bahwa infrastruktur dasar yang menyentuh kebutuhan masyarakat menjadi perhatian utama dalam pemulihan pascabencana. Ia memastikan timnya segera mengecek dan menangani fasilitas air bersih serta sanitasi yang terdampak.
"Yang penting sekarang bagaimana kebutuhan masyarakat bisa segera kita layani. Karena itu, infrastruktur yang berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar, termasuk sarana air bersih dan sanitasi, harus segera kita cek dan tangani sesuai kondisi di lapangan," kata Menteri Dody Hanggodo.
Melalui Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPBPK) NTT, Kementerian PU melakukan inspeksi menyeluruh di Kabupaten Nagekeo, Ende, dan Sikka. Pemeriksaan mencakup Instalasi Pengolahan Air (IPA), jaringan perpipaan, sarana distribusi, serta tampungan air masyarakat.
Salah satu titik perbaikan adalah jaringan perpipaan SPAM Inpres 2024 IKK Nangaba di Kabupaten Ende yang rusak akibat gempa. Berkoordinasi dengan PDAM Kabupaten Ende, perbaikan berlangsung sejak 16 Agustus dan tuntas pada malam 17 Agustus 2026, sehingga aliran air kembali mengalir ke rumah warga.
Kementerian PU juga mengerahkan Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL) Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) untuk mendata kerusakan dan langsung memperbaiki sarana yang terganggu di lapangan.
Dukung Penanganan di Lapangan
Sebanyak 10 personel tambahan diberangkatkan dari Kupang untuk memperkuat pemeriksaan dan perbaikan sarana air minum di Maumere, Ende, dan Nagekeo. Mereka bertugas mengecek kondisi fasilitas sekaligus memetakan kebutuhan dukungan lanjutan.
Di Kabupaten Nagekeo, 3 unit Mobil Tangki Air (MTA) dikerahkan untuk memenuhi kebutuhan warga. Sebanyak 2 unit MTA sudah berada di lokasi, sementara 1 unit lainnya merupakan MTA pinjam pakai yang sebelumnya dipakai untuk penanganan banjir Mauponggo.
Kementerian PU juga menyiapkan 16 unit Hidran Umum (HU) yang terdiri dari 8 unit dukungan yang tersedia dan 8 unit HU pinjam pakai. Di Kupang, disiagakan 2 unit mobil tangki air dan 1 unit truk tinja untuk mendukung operasi penanganan bencana.
Menteri Dody menekankan bahwa penanganan dilakukan bertahap sesuai hasil pemeriksaan dan kebutuhan tiap wilayah. Ia memastikan timnya terus berupaya agar layanan air bersih tetap berjalan selama masa darurat.
"Kami akan terus lakukan pengecekan dan inventarisasi di lapangan supaya penanganannya tepat sasaran. Kalau sumber air dan jaringan masih bisa difungsikan, kami optimalkan. Kalau belum, kita siapkan alternatif agar masyarakat tetap mendapatkan layanan air bersih selama masa tanggap darurat," jelas Dody Hanggodo.
Inventarisasi pos-pos pengungsian terus dilakukan untuk memastikan kebutuhan air dan sanitasi terpenuhi cepat. Bila perlu, mobilitas prasarana air minum akan didatangkan dari luar NTT, termasuk dari depo di Surabaya.
Pemenuhan air bersih dioptimalkan lewat SPAM atau PDAM jika jaringan berfungsi. Namun, jika perpipaan terganggu atau belum tersedia, dukungan diberikan melalui mobil tangki, hidran umum, tampungan air, dan sarana pendukung lain sesuai kondisi di lapangan.