Pencarian

Refleksi 60 Tahun IAIN Ternate: Bukan Nostalgia, tapi Ikhtiar Menjaga Keberlanjutan Kampus di Tengah Persaingan

Rabu, 26 Agustus 2026 • 14:38:02 WIB
Refleksi 60 Tahun IAIN Ternate: Bukan Nostalgia, tapi Ikhtiar Menjaga Keberlanjutan Kampus di Tengah Persaingan
Suasana peringatan 60 tahun IAIN Ternate dihadiri sivitas akademika di kompleks kampus setempat.

TERNATE — Enam dekade perjalanan IAIN Ternate bukanlah sebuah elegi masa lalu. Perayaan ulang tahun institut ini justru menjadi penegasan bahwa masa depan kampus sedang direncanakan hari ini, melalui komitmen kolektif seluruh elemen sivitas akademika.

Agus SB, pengajar Antropologi di Fakultas Ushuluddin dan Adab (FUAD) IAIN Ternate, menekankan bahwa peringatan ini bukan tindakan nostalgia yang tidak produktif. Menurutnya, ada kesadaran waktu rangkap tiga yang harus dipahami: masa kini adalah masa depan dari masa lalu, sekaligus masa lalu dari masa depan.

Utang Jasa yang Tak Pernah Lunas kepada Para Pendiri

Eksistensi kompleks kampus IAIN Ternate saat ini tidak muncul dari ruang hampa. Gedung perkuliahan, lahan, dan bangunan rektorat adalah hasil karya manusia yang hadir sebelum generasi sekarang.

Agus mengingatkan bahwa seluruh civitas akademika berutang jasa kepada mereka yang di masa lalu telah menghadirkan institut ini. Utang tersebut, kata dia, takkan pernah dapat dilunasi oleh siapa pun, sebagaimana imbalan pahala terhadap amal jari'ah para pendiri takkan pernah selesai selama institut ini tetap survive.

Transformasi dari Fakultas Tarbiyah hingga Menjadi IAIN

Perjalanan institut ini telah melewati tiga periode penting. Dimulai dari peresmian Fakultas Tarbiyah di Ternate sebagai bagian dari Filial IAIN Ujungpandang pada 1966, kemudian bertransformasi menjadi STAIN Ternate pada 1997, dan akhirnya menjadi IAIN Ternate pada 2013.

Dalam setiap periode tersebut, selalu ada jerih orang-orang berdedikasi yang keras kepala menerjang hambatan dan meraih peluang untuk mentransformasi institut. Ingatan kolektif tentang peristiwa awal ini hanya terbantu oleh sekitar 20 lembar dokumen catatan yang ditulis dengan mesin ketik oleh almarhum Sulaiman L. Azis.

Pele Putus Malintang Patah: Prinsip Keteguhan Menghadapi Persaingan

Keberlanjutan institut tidak dapat dipikul oleh satu orang saja. Meskipun ada satu orang yang diserahi tanggung jawab untuk menyatukan semua elemen, masa depan kampus sesungguhnya diwujudkan melalui ikhtiar dan komitmen bersama.

Agus menegaskan bahwa apapun retorika visi yang diusung, kebajikan adalah substansinya. Prinsip keteguhan "pele putus malintang patah" menjadi pegangan agar tak ada satu pun yang ingin menjadi saksi kematian institut akibat penyakit malas berpikir secara kolektif.

Di tengah persaingan antarperguruan tinggi, pepatah "di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung" berlaku bagi seluruh sivitas akademika. Enam puluh tahun telah dilalui dan kampus ini berkelanjutan berkhidmat kepada kebajikan.

Follow halmahera24.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: tandaseru.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks